1.
Pengertian
Persediaan
Persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan
digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk digunakan dalam proses
produksi atau perakitan, untuk dijual kembali, atau untuk suku cadang dari
peralatan atau mesin. Persediaan dapat berupa bahan mentah,
bahan pembantu, barang dalam proses, barang jadi ataupun suku cadang.
Menurut
Koher,Eric L.A. Inventory
adalah : " Bahan baku dan
penolong, barang jadi dan barang dalam proses produksi dana barang-barang yang
tersedia, yang dimiliki dalam perjalanan dalam tempat penyimpanan atau
konsinyasikan kepada pihak lain pada akhir periode".
Oleh
karena itu, setiap perusahaan pasti memiliki persediaan, hanya saja volumenya
saja yang berbeda. Karena setiap item tadi memiliki nilai (biaya yang sudah
dikeluarkan untuk mendapatkannya), maka nilai persediaan dapat kita hitung.
Idealnya nilai persediaan ini dapat kita kelola dengan tepat agar tidak
membebani perusahaan tanpa mengurangi service level kepada pelanggan.
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah item seperti
minuman wine, tanah, emas dapat dikategorikan sebagai persediaan? Definisi di
atas memungkinkan 2 macam persepsi. Yang pertama mengatakan selama
barang-barang tersebut disimpan dan akan dijual kembali (baca: digunakan untuk
dijual) maka kita dapat kelompokkan sebagai persediaan. Yang kedua mengatakan
istilah “digunakan” adalah untuk proses bisnis perusahaan, bukan untuk dijual
apalagi dalam kurun waktu yang lama. Jika pemahamannya demikian, maka wine,
tanah dan emas tidak dapat disebut sebagai persediaan. Terlepas dari
persepektif mana yang digunakan, karena karakteristiknya khas yaitu bertambah
nilainya seiring bertambahnya waktu, maka kelompok item ini tidak kita masukkan
ke dalam objek analisis kita dalam manajemen persediaan.
Sebagai salah
satu asset penting dalam perusahaan – karena biasanya mempunyai nilai yang
cukup besar serta mempunyai pengaruh terhadap besar kecilnya biaya operasi –
perencanaan dan pengendalian persediaan merupakan salah satu kegiatan penting
untuk mendapat perhatian khusus dari manajemen perusahaan.
2.
Fungsi
Persediaan
Fungsi persediaan yaitu untuk menghindari keterlambatan
barang, hilangnya barang dan dengan adanya persediaan, maka operasional
perusahaan dapat terus berjalan sehingga pelayanan terhadap konsumen dapat
terus berjalan sehingga pelayanan terhadap konsumen dapat dilakukan dengan
sebaik-baiknya.
Menurut
Freddy Rangkuti dalam buku “Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang
Bisnis”, fungsi utama persediaan yaitu :
1.
Fungsi Decoupling.
2.
Fungsi Economic Lot Sizing.
3.
Fungsi Antisipasi.
Dari
istilah diatas dapat di uraikan sebagai berikut :
1.
Fungsi Decoupling adalah persediaan yang memungkinkan perusahaan
dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier.
Persediaan bahan mentah diadakan agar perusahaan tidak akan sepenuhnya
tergantung pada pengadaannya dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman.
Persediaan barang dalam proses diadakan agar departemen-departemen dan
proses-proses individual perusahaan terjaga kebebasannya. Persediaan barang
jadi diperlukan untuk memenuhi permintaan produk yang tidak pasti dari para
langganan.Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan
konsumen yang tidak dapat diperkirakan atau diramalkan disebut Fluctuations
Stock.
2.
Fungsi Economic Lot Sizing. Persediaan Lot Size ini
perlu mempertimbangkan penghematan-penghematan atau potongan pembelian., biaya
pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan sebagainya. Hal ini disebabkan
karena perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar,
dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan (biaya
sewa gudang, investasi, resiko, dan sebagainya).
3.
Fungsi Antisipasi. Apabila
perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan
diramalkan berdasarkan pengalaman atau data-data masa lalu, yaitu permintaan
musiman.Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman (Seasional
Inventories).
Selain
fungsi-fungsi diatas, menurut Herjanto (1997:168) terdapat enam fungsi penting
yang dikandung oleh persediaan dalam memenuhi kebutuhan perusahaan antara lain:
1.
Menghilangkan
resiko keterlambatan pengiriman bahan baku atau barang yang dibutuhkan
perusahaan.
2.
Menghilangkan
resiko jika material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan.
3.
Menghilangkan
resiko terhadap kenaikan harga barang atau inflasi.
4.
Untuk
menyimpan bahan baku yang dihasilkan secara musiman sehingga perusahaan tidak
akan sulit bila bahan tersebut tidak tersedia dipasaran.
5.
Mendapatkan
keuntungan dari pembelian berdasarkan potongan kuantitas (Quantity Discount).
6.
Memberikan
pelayanan kepada langganan dengan tersediaanya barang yang diperlukan
3.
Klasifikasi
Persediaan
Ada beberapa macam klasifikasi inventori, menurut
Dobler at al, ada beberapa klasifikasi inventori yang digunakan oleh
perusahaan, antara lain:
a.
Inventori Produksi
Yang
termasuk dalam klasifikasi invetori produksi adalah bahan baku dan bahan-bahan
lain yang digunakan dalam proses produksi dan merupakan bagian dari produk.
Bisa terdiri dari dua tipe yaitu item spesial yang dibuat khusus untuk
spesifikasi perusahaan dan item standart produksi yang dibeli secara off-the-self.
b.
Inventori MRO (Maintaintenance,
Repair, and Operating supplies)
Yang
termasuk dalam katagori ini adalah barang-barang yang digunakan dalam proses
produksi namun tidak merupakan bagian dari produk. Seperti pelumas dan
pembersih.
c. Inventori
In-Process
Yang
termasuk dalam katagori inventori ini adalah produk setengah jadi. Produk yang
termasuk dalam katagori inventori ini bisa ditemukan dalam berbagai proses
produksi.
d. Inventori
Finished-goods
Semua
produk jadi yang siap untuk dipasarkan termasuk dalam katagori inventori
finished goods. PT XYZ adalah sebuah swalayan yang menjual produk produk yang
siap untuk dipakai. Tidak ada proses pengolahan yang ada disana, sehingga semua
inventori yang dimilikinya termasuk dalam katagori ini. Setelah diperhatikan
definisi inventory diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
persediaan bahan baku adalah barang-barang berwujud yang dimiliki dengan tujuan
untuk diproses menjadi barang jadi. Barang ini dihasilkan sendiri dan dibeli
dari perusahaan lain yang merupakan produk akhir dari perusahaan itu sendiri,
barang ini merupakan bahan utama dalam menghasilkan produk akhir, persediaan
barang penolong atau pembantu adalah bahan-bahan yang diperlukan untuk
menghasilkan produk akhir, tapi tidak secara langsung ikut serta dalam hasil
produk akhir. Persediaan barang dagangan adalah barang-barang yang dibeli dan
dimiliki oleh perusahaan dagang untuk dijual kembali.
Salah satu perlunya inventory dilaksanakan dengan
baik yaitu mengetahui secara pasti harga pokok dari barang-barang dagangan yang
terjual. Disamping itu untuk menjamin lancarnya arus lintas barang maka perlu
diadakan pencatatan terhadap segala penerimaan barang yang berasal dari
supplier,barang yang dipesan oleh langganan, barang yang terjual, barang yang
dikembalikan oleh langganan dan penyesuaian-penyesuaian (adjusment) terhadap
barang.
Atas dasar pencatatan tersebut nantinya
dapat diketahui antara lain barang mana yang banyak tertimbun (over stock)
barang mana yang harus dipesan kembali kepada supplier karena persediannya
sudah menipis, apabila terjadi pemesanan barang kepada supplier, maka pemesanan
ini perlu pula dicatat untuk mendapatkan informasi tentang inventory yang
lengkap, bila segala transaksi yang disebut diatas tidak dicatat dengan baik
maka akan menemui kesulitan untuk mengetahui keadaan inventory secara pasti
pada suatu saat misalnya kesulitan untuk mengetahui berapa jumlah persedian
barang yang ada dan yang sudah dipasarkan serta jumlah barang yang sudah dipesan
oleh langganan (Quantity Committed) dan berapa jumlah barang yang dipesan kepada
supplier (Quantity Sold) dan informasi penting lainnya. Mengurangi inventori
barang. Inventori merupakan aset perusahaan yang berkisar antara 30%-40%
sedangkan biaya penyimpanan barang berkisar 20%-40% dari nilai barang yang
disimpan.
4. Alasan Memiliki Persediaan
Laba
yang maksimal dapat dicapai dengan meminimalkan biaya yang berkaitan dengan persediaan.
Namun meminimalkan biaya persiapan dapat dicapai dengan memesan atau memproduksi
dalam jumlah yang kecil, sedangkan untuk eminimalkan biaya pemesanan dapat
dicapai dengan melakukan pesanan yang besar dan jarang. Jadi meminimalkan biaya
penyimpanan mendorong jumlah persediaan yang sedikit atau tidak ada, sedangkan meminimalkan
biaya pemesanan harus dilakukan dengan melakukan pemesanan ,persediaan dalam
jumlah yang relatif besar, sehingga mendorong jumlah persediaan yang besar.
Alasan yang kedua yang mendorong perusahaan menyimpan persediaan dalam jumlah
yang relative besar adalah masalah ketidakpastian permintaan. Jika permintaan
akan bahan atau produk lebih besar dari yang diperkirakan, maka persediaan
dapat berfungsi sebagai penyangga, yang memberikan perusahaan kemampuan untuk
memenuhi tanggal penyerahan sehingga pelanggan merasa puas.
Secara umum
alasan untuk memiliki persediaan adalah sebagai berikut :
1.
Untuk menyeimbangkan biaya pemesanan
atau persiapan dan biaya penyimpanan.
2.
Untuk memenuhi permintaan pelanggan,
misalnya menepati tanggal pengiriman.
3.
Untuk menghindari penutupan fasilitas
manufaktur akibat :
a. Kerusakan
mesin
b. Kerusakan
komponen
c. Tidak
tersedianya komponen
d. Pengiriman
komponen yang terlambat
4.
Untuk menyanggah proses produksi yang
tidak dapat diandalkan.
5.
Untuk memanfaatkan diskon
6.
Untuk menghadapi kenaikan harga di masa
yang akan datang.
5.
Faktor
Yang Mempengaruhi Besarnya Persediaan.
Dalam penyelenggaraan persediaan bahan
baku untuk pelaksanan proses produksi dari suatu perusahan, terdapat beberapa
faktor yang akan mempengaruhi persediaan bahan baku, dimana faktor faktor
tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain. Adapun berbagai faktor
tersebut menurut Ahyari ( 2003), antara lain :
a.
Perkiraan
Pemakaian Bahan Baku
Sebelum perusahaan
mengadakan pembelian bahan baku, maka selayaknya manajemen perusahaan
mengadakan penyusunan perkiraan pemakaian bahan baku untuk keperluan proses
produksi. Hal ini dapat dilakukan dengan mendasark:an pada perencanaan produksi
dan jadwal produksi yang telah disusun sebelumnya. Jumlah bahan baku yang akan
dibeli perusahaan tersebut dapat diperhitungkan, dengan cara jumlah kebutuhan
baku untuk proses produksi ditambah dengan rencana persediaan akhir dari bahan
baku tersebut, dan kemudian dikurangi dengan persediaan awal dalam perusahaan
yang bersangkutan.
b.
Harga
Bahan Baku
Harga bahan baku yang
akan digunakan dalam preses produksi merupakan salah satu faktor penentu
seberapa besar dana yang harus disediakan oleh perusahaan yang bersangkutan
apabila perusahaan tersebut akan menyelenggarakan persediaan bahan bakau dalam
jumlah unit tertentu. Semakin tinggi harga bahan baku yang digunakan perusahaan
tersebut, maka untuk mencapai sejumlah persediaan tertentu akan memerlukan dana
yang semakin besar pula. Dengan demikian, biaya modal dari modal yang tertanam
dalam bahan baku akan semakin besar pula.
c.
Biaya
Biaya Persediaan
Dalam hubungannya
dengan biaya biaya persediaan ini, dikenal tiga macam biaya persediaan, yaitu
biaya penyimpanan, biaya. pemesanan, dan biaya tetap persediaan. Biaya
penyimpanan merupakan biaya persediaan yang jumlahnya semakin besar apabila
jumlah unit bahan yang disimpan di dalam perusahaan tersebut semakin tinggi. Biaya
pemesanan merupakan biaya persediaan yang jumlahnya semakin besar apabila
frekuensi pemesanan bahan baku yang digunakan dalam perusahaan semakin besar.
Biaya tetap persediaan merupakan biaya persediaan yang jumlahnya tidak
terpengaruh baik oleh jumlah unit yang disimpan dalam perusahaan ataupun
frekuensi pemesanan bahan baku yang dilaksanakan oleh perusahaan tersebut.
d.
Kebijaksanaan
pembelanjaan
Kebijaksanaan
pembelanjaan yang dilaksanakan di dalam perusahaan akan berpengaruh terhadap
penyelenggaraan persediaaan bahan baku dalam perusahaan tersebut. Seberapa
besar dana yang dapat digunakan untuk investasi di dalam persediaan bahan baku
tentunya juga tergantung dari kebijaksanaan perusahaan apakah dana untuk
persediaan bahan baku ini dapat memperoleh prioritas pertama, kedua atau justru
yang terakhir dalam perusahaan yang bersangkutan. Disamping itu tentunya
financial perusahaan secara keseluruhan juga akan mempengaruhi kemampuan
perusahan untuk membiayai seluruh kebutuhan persediaan bahan bakunya.
e.
Pemakaian
Bahan
Hubungan antara
perkiraan pemakaian bahan baku dengan pemakaian senyatanya di dalam perusahaan
yang bersangkutan untuk keperluan pelaksanaan proses produksi akan lebih baik
apabila diadakan analisis secara teratur, sehingga akan dapat diketahui pola
penyerapan bahan baku tersebut. Dengan analisis ini maka dapat diketahui apakah
model peramalan yang digunakan sebagai dasar perkiraan pemakaian bahan ini
sesuai dengan pemakaian senyatanya atau tidak. Revisi dari model yang digunakan
tentunya akan lebih baik dilaksanakan apabila ternyata model peramalan
penyerapan bahan baku yang digunakan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan
yang yang ada.
f.
Waktu
Tunggu
Waktu tunggu merupakan tenggang waktu
yang diperlukan antara saat pemesanan bahan baku tersebut dilaksanakan dengan
datangnya bahan baku yang dipesan tersebut. Apabila pemesanan bahan baku yang
akan digunakan oleh perusahaan tersebut tidak memperhitungkan waktu tunggu,
maka akan terjadi kekurangan bahan baku ( walaupun sudah dipesan ) karena bahan
baku tersebut belum datang ke perusahaan. Namun demikian, apabila perusahaan
tersebut memperhitungkan waktu tunggu ini lebih dari yang semestinya
diperlukan, maka perusahaan yang bersangkutan tersebut akan mengalami
penumpukan bahan baku, dan keadaan ini akan merugikan perusahaan yang
bersangkutan.
g.
Model Pembelian Bahan Baku
Model pembelian bahan
baku yang digunakan perusahaan sangat berpengaruh terhadap persediaan bahan
baku yang dimiliki perusahaan. Model pembelian yang berbeda akan menghasilkan
jumlah pembelian optimal yang beubeda pula. Pemilihan model pembelian yang akan
digunakati oleh suatu perusahan akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi
dari persediaan bahan buku untuk masing masing perusahaan yang bersangkutan.
Karakteristik masing masing bahan baku yang digunakan dalam perusahaan dapat
dijadikan dasar untuk mengadakan pemilihan model pembelian yang sesuai dengan
masing-masing bahasa baku dalam perusahaan tersebut. Sampai saat ini, model
pembelian yang sering digunakan dalam perusahaan adalah model pembalian dengan
kuantitas pembelian yang optimal ( EOQ ).
h.
Persediaan
Pengaman
Persediaan pengaman
untuk menanggulangi kehabisan bahan baku dalam perusahaan, maka diadakan
persediaan pengaman (safety stock). Persediaan pengaman digunakan perusahaan apabila
terjadi kekurangan bahan baku, atau keterlambatan datangnya bahan baku yang
dibeli oleh perusahaan. Dengan adanya persediaan pengaman maka proses produksi
dalam perusahaan akan dapat betjalan tanpa adanya gangguan kehabisan bahan
baku, walaupun bahan baku yang dibeli perusahaan tersebut terlambat dari waktu
yang diperhitungkan. Persediaan pengaman ini akan diselenggarakan dalam suatu
jumlah tertentu, dimana jumlah ini merupakan suatu jumlah tetap di dalam suatu
periode yang telah ditentukan sebelumnya.
i.
Pembelian
Kembali
Dalam melaksanakan
pembelian kembali tentunya manajemen yang bersangkutan akan mempertimbangkan
panjangnya waktu tunggu yang diperlukan didalam pembelian bahan baku tersebut.
Dengan demikian maka pembelian kembali yang dilaksanakan ini akan mendatangkan
bahan baku ke dalam gudang dalam waktu yang tepat, sehingga tidak akan terjadi
kekeurangan bahan baku karena keterlambatan kedatangan bahan baku tersebut,
atau sebaliknya yaitu kelebihan bahan baku dalam gudang karena bahan baku yang dipesan
datang terlalu awal.
Selain factor-faktor
yang disebutkan diatas terdapat factor-faktor lain yang mempengaruhi besarnya
tingkat persediaan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya
tingkat persediaan, antara lain :
a.
Biaya persediaan barang (Inventory
cost). Biaya yang berkaitan dengan pemilikan barang dapat dibedakan
ke dalam :
i.
Holding atau Carrying
cost, yaitu biaya yang dikeluarkan karena memelihara atau menyimpan
barang; atau opportunity cost karena melakukan investasi
dalam bentuk barang dan bukan investasi lainnya .
ii.
Ordering cost,
yaitu biaya yang dikeluarkan untuk memesan barang dari supplier untuk
mengganti barang yang telah dijual, c.Stock out cost, yaitu biaya yang
timbul karena kehabisan barang pada saat diperlukan.
b.
Sejauh mana permintaan barang oleh
pembeli dapat diketahui. Jika permintaan barang dapat diketahui, maka
perusahaan dapat menentukan berapa kebutuhan barang dalam suatu periode.
c.
Lama penyerahan barang antara saat
dipesan dengan barang tiba, atau disebut sebagai “lead time” atau
“delivery time”.
d.
Terdapat atau tidak kemungkinan untuk
menunda pemenuhan pesanan dari pembeli atau disebut sebagai “backlogging”
atau “backordering”.
e.
Kemungkinan diperolehnya diskonto untuk
pembelian dalam jumlah besar. Dengan menerima diskonto untuk pembelian dalam
jumlah besar, total biaya persediaan barang akan berkurang. Tetapi
pembelian dalam jumlah besar akan meningkatkan biaya penyimpanan
atau holding cost. Sedangkan pembelian kurang dari jumlah
minimum tidak memperoleh diskonto, tetapi biaya pesanan akan meningkat.
Dengan demikian terdapat pertimbangan untung rugi dalam keputusan untuk
mengambil diskonto atau tidak.
6. Manajemen Persediaan
Aktivitas
mempertahankan jumlah persediaan pada tingkat yang dikehendaki. Pada produk barang,
pengendalian persediaan ditekankan pada pengendalian material. Pada produk
jasa, pengendalian diutamakan sedikit pada material dan banyak pada jasa
pasokan karena konsumsi sering kali bersamaan dengan pengadaan jasa sehingga
tidak memerlukan persediaan.
Manajemen
persediaan merupakan salah satu topik yang sangat terkait dengan tujuanmanajemen operasi, yaitu meminimalkan total biaya dan
meningkatkan service level. Mengapa demikian? karena dengan mengelola
persediaan dengan tepat perusahaan akan meraih keduanya sekaligus. Jika
rata-rata level persediaan dapat diturunkan maka secara tidak langsung salah
satu komponen biaya produksi dapat ditekan, yang berujung pada peningkatan
margin keuntungan. Satu aspek lainnya yang dapat dicapai dengan pengelolaan
persediaan yang tepat adalah service level kepada pelanggan meningkat, atau
minimal tidak turun.
Manajemen
persediaan atau ada juga yang menyebutnya sebagai sistem manajemen persediaan
adalah sistem manajemen (merancang, mengeksekusi dan mengevaluasi) persediaan
dengan instrumen kebijakan terkait dengan:
(i)
kapan pemesanan kembali harus dilakukan?
(ii)
berapa besar jumlah item yang harus dipesan?
(iii)
berapa rata-rata
level persediaan yang harus dijaga?
Dengan pengertian
semacam ini, paling tidak perusahaan memiliki panduan mengenai apa saja yang
harus diputuskan dalam setiap model persediaan yang dipilih.
7.
Manfaat
ManajemenPersediaan
Dalam menejemen persediaan sudah tentu ada manfaatnya,
berikut merupakan manfaat dari manajemen persediaan.
·
Memanfaatkan
Diskon Kuantitas
Diskon
kuantitas diperoleh jika perusahaan membeli dalam kuantitas yang
besar.Perusahaan membeli melebihi kebutuhan sehingga ada yang disimpan sebagai
persediaan.
·
Menghindari
Kekurangan Bahan (Out Of Stock).
Jika
pelanggan datang untuk membeli barang dagangan, kemudian perusahaan tidak
mempunyai barang tersebut, maka perusahaan kehilangan kesempatan untuk
memperoleh keuntungan.Untuk menghindari situasi tersebut, perusahaan harus
mempunyai persediaan barang jadi.
·
Manfaat
Pemasaran.
Jika
perusahaan mempunyai persediaan barang dagangan yang lengkap, maka
pelanggan/calon pelanggan akan terkesan dengan kelengkapan barang dagangan yang
kita tawarkan. Reputasi perusahaan bisa meningkat.Di samping itu jika
perusahaan selalu mampu memenuhi keinginan pelanggan pada saat dibutuhkan maka
kepuasan pelanggan semakin baik, dan perusahaan semakin untung.
·
Peningkatan
Tingkat Pelayanan
Pelanggan
tidak hanya meminta kecepatan pengantaran tetapi juga ketepatan, kepercayaan,
dan macam-macam pengapalan. Pengintegrasian dengan penjualan meningkatkan
pengetahuan pelanggan akan preferensi pengepakan dan pengiriman, dan
memungkinkan otomatisasi untuk memenuhi instruksi; indetifikasi dari daerah
distribusi untuk dibagi antara beberapa pelanggan atau grup dan mudah untuk
menyortir dari staging area dan pergerakan stok. Hal ini menjamin bahwa produk
yang benar berada ditempat yang benar pada waktu yang tepat. Tingkat pelayanan
tertinggi dapat menyediakan pelanggan sehubungan dengan respons yang cepat
terhadap permintaan atau perubahan persyaratan dimana hal ini akan meningkatkan
kepuasan pelanggan.
·
Pengontrolan
Persediaan yang Lebih Baik
Fleksibilitas
dari distribusi dan penyimpanan barang-barang secara menyeluruh memungkinkan
perusahaan untuk memantau dan mengontrol persediaan sesuai dengan bisnis
mereka. Akses yang instan terhadap data-data yang kritis meliputi ketersediaan
peresediaan, jumlah yang ada, jumlah yang harus diorder lagi dan biaya yang
dapat diketahui pada saat itu juga terhadap persediaan untuk direspons secara
cepat dalam rangka pengambilan keputusan, sistem dengan kemampuan mengelolah
beberapa lokasi yang berbeda-beda memungkinkan manajemen dari gudang-gudang
yang berbeda-beda dan penelusuran persediaan melalui lot, secara seri atau
menggunakan level.
8.
Persediaan sebagai bentuk investasi
Pengertian investasi
disini disebabkan karena terikatnya modal dalam persediaan sehingga tidak dapat
digunakan untuk kepentingan-kepentingan lain.
Contoh: Sebuah perusahaan merencanakan untuk memperbesar volume produksinya
agar dapat mengurangi biaya-biaya ( set up cost ) yang dirasakan terlalu besar.
Penghematan yang dapat diperoleh siperkirakan sebesar Rp 350.000,00 per tahun.
Inventory turnover untuk saat ini adalah sebesar 6 kali dan dengan adanya
peningkatan produksi yang direncanakan tersebut maka tingkat inventory turnover
akan turun menjadi 4 kali. Adapun harga pokok dari barang yang dijual tidak
akan meningkat, yaitu Rp 12.000.000,00 dan opportunity cost atau return on
investment yang disyaratkan adalah 20%.
Langkah pertama dalam
menentukan apakah perusahaan harus melakukan rencana peningkatan produksi
adalah dengan jalan menghitung berapa rata-rata investasi dari kedua keadaan
yang berbeda tersebut. Rata-rata investasi dalam persediaan dapat dihitung
dengan membagi harga pokok barang yang diproduksikan dengan tingkat perputaran
persediaan.
Harga Pokok
Inventory
Turnover
Rata-rata persediaan
disini berarti sama dengan rata-rata investasi dalam persediaan.
Rata-rata persediaan dalam investasi:
Rp
12.000.000,00
6
= Rp
2.000.000,00
Rp
12.000.000,00
4
= Rp
3.000.000,00
Investasi
dalam produksi yang direncanakan lebih besar dari keadaan semula karena
perusahaan sekarang mempertahankan jumlah persediaan bahan mentah, barang dalam
proses dan barang jadi dalam jumlah yang lebih besar serta karena menurunnya
tingkat perputaran persediaan.
Investasi marginal dalam
persediaan dapat dihitung dengan jalan mengurangi rata-rata investasi dalam
persediaan yang direncanakan dengan jumlah investasi rata-rata sebelum adanya
perubahan.
Rp 3000.000,00 – Rp 2.000.000,00 = Rp 1.000.000,00
Atas tambahan investasi sebesar Rp 1.000.000,00 tersebut perusahaan
diharapkan untuk mendapatkan return on investment sebesar 20% = Rp 200.000 (20% X Rp 1000.000).
Jumlah return on investment sebesar Rp 200.000,00 ini dianggap sebagai biaya
karena apabila modal tersebut tidak ditanamkan dalam persediaan, perusahaan
akan dapat memperoleh hasil sebesar 20% dengan menanamkan ke pos yang lain.
Dengan membandingkan
antara biaya sebesar Rp 200.000,00 dengan jumlah pengematan yang akan diperoleh
apabila rencana tersebut dijalankan, yakni sebesar Rp 350.000,00 maka dapat
disimpulkan bahwa rencana peningkatan produksi tersebut dapat dilaksanakan
karena akan diperoleh tambahan keuntungan bersih sebesar Rp 150.000,00 (Rp
350.000,00 – Rp 200.000,00 ).
Prosedur yang disajikan dalam contoh sederhana diatas
janganlah diterapkan sebagai suatu alat yang universal dalam mengambil
keputusan-keputusan sehubungan dengan persediaan perusahaan. Hal tersebut hanya
merupakan suatu ilustrasi dari atau kerangka berfikir, terutama dalam hubungan
antara jumlah persediaan dengan jumlah modal yang diinvestasikan dalam
perusahaan tersebut.
Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin besar jumlah
persediaan semakin besar pula jumlah investasi jumlah investasi yang
diperlukan, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian dapat dilihat adanya
kesamaan antara pendekatan yang digunakan dalam menilai investasi dalam piutang
dengan investasi dalam persediaan dalam rangka menilai perubahan-perubahan
jumlah persediaan, manajer keuangan haruslah melihatnya dari sudut pandang
untung ruginya bagi perusahaan atau dari cost benefit viewpoint.
9.
Hubungan Antara Persediaan Dengan Piutang
Manajemen serta jumlah persediaan
dengan piutang berhubungan erat satu sama lain karena adanya hubungan yang
begitu erat diantara komponen-komponen aset lancar ini maka manajemen
persediaan seharusnya tidak dipandang secara terpisah sama sekali dengan
manajemen piutang. Misalnya, keputusan-keputusan untuk memberikan kredit
(penjualan secara kredit) kepada seorang pelanggan akan menyebabkan
meningkatnya volume penjualan, bertambah besar piutang, dan hal ini hanya dapat
terlaksana apabila didukung oleh jumlah persediaan yang lebih tinggi.
Persyaratan-persyaratan kredit juga
akan membawa pengaruh terhadap jumlah investasi dalam piutang dan persediaan
perusahaan. Persyaratan-persyaratan kredit atau jangka waktu kredit yang lebih
lama akan memungkinkan perusahaan mentransfer produk-produk yang tadinya berada
dalam persediaan kedalam pos piutang. Secara umum dapat dikatakan bahwa strategi
seperti diatas mempunyai manfaat, karena biasanya biaya-biaya pemeliharaan
(carrying cost) produk yang berada dalam persediaan lebih besar dari pada
carrying cost piutang. Hal ini disebabkan karena yang termasuk dalam carrying
cost persediaan selain return on investment yang diharapkan juga termasuk
biaya-biaya penggudangan, asuransi, dan sebagainya.
10.
Safety stock
Menurut Sofyan Assauri, dalam bukunya
Management Production, (1998: 114) dalam hubungan dengan persediaan pengamanan,
yang dimaksud dengan persediaan pengaman (safety stock) adalah persediaan
tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya
kekurangan bahan (stock-out).
persediaan
pengaman (safety stock) ini perlu diperhatikan oleh karena :
a.
Kemungkinan terjadinya kekurangan bahan
mentah, karena pemakaian yang lebih besar dari perkiraan semula.
b.
Keterlambatan dalam penerimaan bahan
mentah yang dipesan
Secara umum safety stock merupakan persediaan
minimal yang harus ada agar perusahaan dapat berjalan normal. Semakin besar
safery stock maka perusahaan kemungkinan khabisan persedian akan semakin kecil.
Safety stock adalah istilah yang digunakan oleh spesialis persediaan untuk
menggambarkan tingkat stok tambahan yang dipertahankan di bawah siklus saham
untuk penyangga terhadap stockouts. Safety Stock (juga disebut Buffer Stock)
ada untuk menghadapi ketidakpastian dalam penawaran dan permintaan. Safety
stock didefinisikan sebagai unit tambahan persediaan dibawa sebagai
perlindungan terhadap kemungkinan stockouts (kekurangan bahan baku atau
kemasan). Dengan memiliki jumlah yang memadai safety stock di tangan, sebuah
perusahaan dapat memenuhi permintaan penjualan yang melebihi perkiraan
permintaan mereka tanpa mengubah rencana produksi mereka. Hal ini diadakan
ketika suatu organisasi tidak dapat secara akurat memprediksi permintaan dan /
atau tenggang waktu untuk produk. Ini berfungsi sebagai asuransi terhadap
stockouts.
Dengan
produk baru, safety stock dapat dimanfaatkan sebagai alat strategis sampai
perusahaan dapat menilai seberapa akurat ramalan mereka adalah setelah beberapa
tahun pertama, terutama bila digunakan dengan perencanaan kebutuhan material
worksheet. Yang kurang akurat peramalan, yang lebih safety stock diperlukan.
Dengan perencanaan kebutuhan material (MRP) lembar sebuah perusahaan dapat
menilai berapa banyak mereka akan perlu untuk memproduksi untuk memenuhi
permintaan penjualan diperkirakan tanpa mengandalka 8 safety stock. Namun,
strategi yang umum adalah untuk mencoba dan mengurangi tingkat persediaan pengaman
untuk membantu menjaga biaya persediaan rendah sekali permintaan produk menjadi
lebih diprediksi. Ini dapat sangat penting bagi perusahaan dengan keuangan yang
lebih kecil bantal atau mereka yang berusaha untuk berjalan di lean
manufacturing, yang bertujuan untuk menghilangkan pemborosan seluruh proses
produksi. Jumlah safety stock sebuah organisasi memilih untuk terus di tangan
dapat secara dramatis mempengaruhi bisnis mereka. Terlalu banyak safety stock
dapat mengakibatkan biaya tinggi memegang persediaan. Selain itu, produk yang
disimpan terlalu lama dapat merusak, kedaluwarsa, atau istirahat selama proses
pergudangan. Terlalu sedikit safety stock dapat mengakibatkan kehilangan
penjualan dan, dengan demikian, yang lebih tinggi tingkat perputaran pelanggan.
Akibatnya, menemukan keseimbangan yang tepat antara terlalu banyak dan terlalu
sedikit safety stock adalah sangat penting.
11.
Pengendalian
Sistem Persediaan
Analisis
Economical Order Quantity dan safety stock dapat dipergunakan untuk
menentukan tingkat persediaan sepanjang asumsi yang mendasari terpenuhi. Namun
seandainya asumsi yang mendasari tidak terpenuhi, maka akan diperlukan adanya
system pengendalian persediaan yang lainnya. Dalam bagian ini akan dibahas
system pengendalian persediaan yang lainnya.
i.
Sistem
komputerisasi
Perkembangan teknologi
komputer akhir-akhir ini telah mengubah system pengendalian persediaan.
Banyak perusahaan-perusahaan besar memanfaatkan komputer dalam manajemen
persediaan. Dengan komputerisasi dimungkinkan pencatatan persediaan,
pengurangan dan pengolahan data persediaan dilakukan dengan sangat tepat.
Selain itu komputer menyediakan data kapan harus dilakukan pesanan kembali. Di
Indonesia pemanfaatan system komputer didalam pengendalian persediaan telah dimanfaatkan
oleh supermarket dibagian kasir dan gudang. Dengan system ini memungkinkan
pencatatan transaksi dapat dilakukan dengan cepat.
ii.
Sistem
Just-in Time
Sistem just in time pertama kali
dikembangkan di jepang yang dipergunakan untuk mensikronkan kecepatan bagian
produksi dengan bagian pengiriman bahan dari supplier. Metode ini diterapkan
pada perusahaan besar seperti perusahaan mobil Toyota, yang mencoba menekan
persediaan yang harus dipertahankan dengan cara menyesuaikan kecepatan proses
parakitan atau assembling dengan pengiriman bahan dari suppliernya. Spare part
diterima hanya beberapa jam atau bahkan beberapa menit sebelum spare part
diperlukan. Just in time tidak hanya dapat diterapkan diperusahaan besar tapi
dapat juga diterapkan oleh perusahaan kecil, bahkan perusahaan kecil lebih
mudah menerapkannya karena relatif lebih mudah dalam redefine job function dibandingkan dengan perusahaan besar.
iii.
Sistem
Pengendalian ABC
Metode
ABC pada prinsipnya memperhatikan factor harga atua nilai persediaan, frekuensi
pemakaian, risiko kehabisan persediaan, dan lead time. Barang-barang yang nilai
frekuensi pemakaian, dan risiko kehabisan tinggi dikelompokkan ke dalam
kelompok A. kelompok ini berarti mencakup kelompok barang yang sangat penting
untuk diawasi dengan seksama. Kelompok B, mencakup barang-barang yang relative
kurang penting sedangkan diluar kedua kelompok tersebut dikelompokkan ke dalam
kelompok C. kelompok C ini mungkin saja secara kuantitas besar tetapi dari segi
nilai relatif kecil dibandingkan dengan kelompok A. Dengan metode ini manajemen
menitikberatkan pada kelompok A yang bernilai strategis bagi perusahaan. Karena
ketidaktepatan dalam manajemen kelompok A akan berakibat sangat besar bagi
kelangsungan perusahaan.
12.
Model
Manajemen Persediaan
1.
Economical
Order Quantity (EOQ)
Apabila
jumlah kebutuhan persediaan dalam satu periode dapat diketahui dengan pasti
maka Economical Order Quantity (EOQ) adalah julah kuantitas barang yang dapat
diperoleh dengan jumlah kas yang minimal, atau sering dikatakan sebagai jumlah
pembelian yang optimal. Dalam menentukan besarnya jumlah pembelian yang optimal
kita hanya memperhatikan biaya variable dari penyediaan persediaan tersebut,
baik biaya variable yang perubahannya searah dengan perubahan jumlah persediaan
yang dibeli/disimpan maupun biaya variable yang perubahannya berlawanan dengan
perubahan jumlah persediaan tersebut. Biaya variable persediaan pada prinsipnya
dapat digolongkan dalam :
1. Biaya-biaya
yang berubah-ubah sesuai dengan frekuensi pesanan, yang sering dinamakan
procurement cost atau set-up cost.
2. Biaya
yang berubah-ubah sesuai dengan besarnya “average inventory” yang sering
disebut “storage” atau “carry-ing cost”
Procurement cost atau set-up soct adalah
merupakan biaya yang berubah-ubah sesuai dengan frekuensi pesanan, yang terdiri
dari :
1.
Biaya selama proses perjalanan
a. Persiapan-persiapan
yang diperlukan untuk pesanan
b. Penentuan
besarnya kuantitas yang akan dipesan
2.
Biaya pengiriman pesana
3.
Biaya penerimaan barang yang dipesan
a. Pembongkaran
dan pemasukan ke gudang
b. Pemeriksaan
material yang diterima
c. Mempersiapkan
laporan penerimaan
d. Mencatat
ke dalam material record cards
4.
Biaya-biaya processing pembayaran
a. Auditing
dan perbandingan antara laporan penerimaan dengan pesanan yang asli
b. Persiapan
pembuatan cek untuk pembayaran
c. Pengiriman
cek dan kemudian auditingnya
Set-up cost akan semakin besar apabila
Qrder Quantity semakin besar
Storage atau carrying cost adalah biaya
yang berubah-ubah dengan besarnya persediaan. Penentuan besarnya biaya ini
didasarkan atas rata-rata persediaan, dan biaya ini kadang kadang dinyatakan
dalam presentase dari nilai dalam rupiah dari rata-rata persediaan atau
dinyatakan dalam rupiah per-unit
Biaya-biaya yang
termasuk dalam carrying cost adalah
1. Biaya
penggunaan/sewa ruangan gudang
a. Biaya
pemeliharaan material dan pembebanan untuk kemungkinan rusak
b. Biaya
untuk menghitung/menimbang barang yang dibel
c. Biaya
asuransi
d. Biaya
modal
e. Pajak
dari persediaan yang ada digudang
Carrying cost akan semakin kecil apabila
jumlah material yang dipesan makin kecil. Besarnya EOQ dapat ditentukan dengan
dua formula :
Apabila currying
cost nya dinyatakan dalam presentase dari persediaan rata-rata
EOQ
=
1. Apabila
carrying costnya dinyatakan dalam rupiah :
EOQ
=
Dimana
:
R
= Kebutuhan bahan selama satu periode
S
= Biaya pemesanan
C
= biaya simpan dalam Rp/Unit
P
= Harga persediaan per-unit
I = Biaya simpan (dalam presentase)
2.
Reorder
Point and Safety Stock
Reorder
point adalah saat atau titik dimana harus diadakan pesanan lagi sedemikian rupa
sehingga kedatangan atau penerimaan bahan baku yang dipesan itu adalah tepat
waktu. Misalkan dari contoh 2 kebutuhan akan bahan baku diketahui secara pasti,
tetapi untuk melakukan pesanan diperlukan waktu 8 hari. Dalam satu tahun
perusahaan beroperasi selama 320 hari maka berarti dalam selama setahun
perusahaan harus melakukan pemesanan sebanyak 10 kali pesanan atau perusahaan
harus memesan setiap 32hari. Itu berarti bahwa persediaan sebesar 2000 unit
akan habis untuk diproses selama 32 hari.
Dengan
demikian perusahaan harus melakukan pemesanan saat persediaan yang ada hanya
cukup untuk beroperasi selama waktu menunggu hingga pesanan yang barn atau lead
time.Berarti pesanan harus dilakukan pada saat persediaan mencapai 500 unit
Apabila
pemakaian setiap periode tidak pasti maka perusahaan perlu mempertahankan
safety stock agar ketidakpastian atau keterlambatan datangnya pesanan yang baru
dan pemakaian bahan tidak menunggu operasi perusahaan. Andaikan perusahaan
menentukan safety stock sebesar 200 unit, maka dengan data yang sama reoder
point harus dilakukan saat persediaan mencapai 700 unit, atau sebesar pemakaian
selama leadtime ditambah dengan safety stock. Untuk jelasnya Nampak seperti
Gambar dibawah ini :
Pada
gambar diatas Nampak bahwa beberapa kemungkinan dalam pemakaian dan lead time
itu terjadi. Ada kemungkinan besarnya pemakaiana setiap periode tidak pasti
atau kemungkinan lain yaitu lead time selama 8hari tetapi kenyataannya pesanan
sudah tiba dalam waktu 7hari dengan demikian persediaan menjadi lebih besar
dari yang seharusnya. Keadaan lain misalkan pemakaian yang jauh lebih besar
sehingga persediaan yang ada akan habis dalam waktu yang cepat, sementara
pesanan yang baru belum tiba. Oleh karena itu tampak bahwa untuk menghindari
masalah atau ketidakpastian perusahaan itu perusahaan harus mempertahankan
persediaan pengaman (safety stock). Dan safety stock menjadi begitu penting
untuk mempertahankan agar kontinuitas operasi dapat terjamin.
Besarnya persediaan pengaman
dipengaruhi oleh banyak factor. Pertama adalah perkiraan penggunaan di masa
yang akan dating. Apabila pemakaian bahan sangat berfluktasi dan sulit untuk
diramalkan maka sebaiknya perusahaan mempertahankan persediaan dalam jumlah
yang cukup besar. Kedua adalah lead time, apabila lead time snagat sulit untuk
diketahui maka persediaan pengaman juga sebaiknya dalam jumlah besar.
Daftar
Pustaka
Brigham, Eugene F.
Dan Joel F. Houston. 2001. Manajemen Keuangan.Jakarta:
Erlangga.
Hanafi, M.B.A. Dr.
Mamduh M. 2004. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: BPFE.
Husnan, Suad,
dan Enny Pudjiastuti, 2006, Dasar-dasar
Manajemen Keuangan Edisi Kelima, Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Syamsuddin, Lukman, 2013, Manajemen Keuangan Perusahaan Konsep Aplikasi Dalam Perencanaan,
Pengawasan, dan Pengambilan Keputusan (Edisi Baru), Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada.
Weston, J Fred dan Eugene F. Bringham, 1990, Manajemen Keuangan Edisi Kesembilan Jilid 1,
Jakarta: Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar