BAB I
PENDAHULUAN
Tugas manjer perusahaan dihadapkan pada dua keputusan besar,
yaitu keputusan penentuan proyek investasi dan strategi pendanaan untuk
melaksanakan investasi yang telah diputuskan. Keputusan investasi yang baik
harus berdasarkan pada informasi proyeksi arus kas dan beberapa informasi
penting antara lain rincian biaya proyek investasi dan biaya modal, yang
besarnya tergantung pada pilihan teknologi yang akan digunakan.
Sesuai dengan salah satu fungsi manajemen yaitu fungsi
perencanaan, maka bagi manajer keuangan fungsi perencanaan ini berarti ia harus
melakukan perencanaan keuangan. Dalam melakukan perencanaan maka sebelumnya
harus dibuat suatu perkiraan atau forecasting tentang apa ytang diharapkann
teradi di masa yang akan datang. Perencanaan keuangan dimaksudkan untuk
memperkirakan bagaimana posisi keuangan perusahaan di masa yang akan datang.
Perencanaan keuangan merupakan salah satu bagian dari proses
perencanaan organisasi (corporate planning). Dari perencanaan diharapkan
perusahaan dapat menghindari kesalahan-kesalahan, menghasilkan keputusan yang
terbaik yang pada akhirnya mampu meningkatkan kinerja dari suatu perusahaan.
Dalam perencanaan keuangan, berbagai aspek perlu
dipertimbangkan sehingga keputusan keuangan akan memberikan struktur keuangan
yang optimal bagi perusahaan baik yang berkaitan dengan sumber maupun
penggunaan keuangan perusahaan. Untuk itu arus dana merupakan salah satu hal
yang sanga penting dalam perusahaan.
BAB II
URAIAN PERENCANAAN KEUANGAN
A. Definisi Perencanaan Keuangan
Perencanaan keuangan adalah suatu ilmu
yang menempatkan kajian tentang keuangan dengan menempatkan berbagai atribut
keuangan secara terkonsep dan sistematis baik secara jangka pendek maupun
jangka panjang. Dalam konsep jangka pendek biasanya 1 tahun atau dua 12 saja.
Sedangkan jangka panjang beberapa pakar menyatakan jangka waktunya 2 hingga 5 tahun ke depan,
bahkan beberapa pakar juga menyebutkan bahwa jangka waktunya bisa lebih dari 5
tahun. Periode jangka panjang menurus Ross dkk., disebut sebagai cakrawala
perencanaan (planning horizon). Cakrawala perencanaan (planning horizon) adalah
periode waktu jangka panjang yang menjadi focus perencanaan keuangan.
Perencanaan keuangan memberikan panduan
bagi perubahan dan pertumbuhan yang terjadi di dalam perusahaan. Memang salah
satu tujuan perencanaan keuangan untuk memberikan arah perubahan dan perkembangan
perusahaan secara berkelanjutan. Jika suatu perusahaan berkeinginan untuk
menciptakan perubahan yang bersifat berkelanjutan maka artinya perencanaan
keuangan bersifat jangka panjang. Namun jika ingin mengejar profit jangka
pendek maka perencanaan perusahaan bersifat jangka pendek. Namun harus diingat
perencanaan yang baik adalah perencanaan yang bersifat jangka panjang.
Perencanaan keuangan adalah kegiatan untuk memprakirakan
pendapatan dan pengeluaran perusahaan yang akan datang. Untuk memprakirakan
pendapatan, pertama, anda perlu memprakirakan volume penjualan. Prakiraan
volume penjualan harus mencakup permintaan. Aspek teknis proses pasokan perlu
dipikirkan, termasuk tenaga kerja, kebutuhan alat, dan waktu serta transportasi
selama tahapan-tahapan pemasokan. Suatu prakiraan dan perencanaan keuangan
dapat mempengaruhi kinerja suatu perusahaan / organisasi karena, memuat misi
dan tujuan usaha, cara kerja dan rincian keuangan, susunan menajemen dan
bagaimana cara mencapai tujuan usahanya sehingga hal tersebut mempengaruhi
kinerja perusahaan.
Perencanaan
Keuangan menurut Certified Financial Planner, Board of Standards adalah proses
mencapai tujuan hidup seseorang melalui manajemen keuangan secara terencana.
Tujuan hidup itu termasuk membeli rumah, menabung untuk pendidikan anak atau
merencanakan pensiun.
Menurut Senduk (2001)
perencanaan keuangan adalah proses merencanakan tujuan-tujuan keuangan jangka
pendek maupun jangka panjang. Yang dimaksud dengan tujuan keuangan itu adalah
keinginan keuangan yang ingin direalisasikan Salah satu perencana keuangan
seperti Gozali (2002) mendefinisikan rencana keuangan sebagai “Sebuah strategi
yang apabila dijalankan bisa membantu anda mencapai tujuan keuangan dimasa
datang“. Sedangkan Dorimulu (2003) dalam artikelnya, menyatakan bahwa
perencanaan keuangan atau Financial planning merupakan “Proses
mencapai tujuan hidup yakni masa depan yang sejahtera dan bahagia lewat
penataan keuangan “.
Bertisch
(1994) mengatakan bahwa “ Financial Planning can be defined as the careful
preparation and coordination of plans necessary to prepare for future financial
needs and goals. It is not investment analisys. It involves mapping strategies
to achieve your defined goals”. Yang berarti Perencanaan keuangan dapat
diartikan sebagai persiapan atau koordinasi yang hati-hati terhadap
rencana-rencana dalam rangka untuk mempersiapkan keinginan dan tujuan
keuangan dimasa datang. Bukan analisa investasi, tetapi meliputi strategi untuk
mendapatkan tujuan-tujuan yang telah ditentukan.
B. Arus Kas Dalam Perusahaan
Sebelum
menyusun rencana keuangan, maka ada beberapa hal yang harus dipahami dalam
suatu perusahaan. Salah satu hal penting yang harus dianalisis adalah arus kas
suatu perusahaan. Arus dana yang terjadi di dalam suatu perusahaan sering juga
dikatakan sebagai perputaran modal kerja. Arus dana adalah cerminan bagaimana
sistem aliran dana yang terjadi dalam suatu perusahaan. Sehingga dengan
diketahui aliran dana ini, maka bagi pihak pengambil keputusan akan dapat
menentukan dalam menetapkan kebutuhan dana perusahaan, darimana akan dibiayai
serta bagaimana penggunaannya.
Informasi
tentang arus kas suatu perusahaan berguna bagi pemakai laporan keuangan sebagai
dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dan menilai kebutuhan perusahaan untuk
menggunakan arus kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para
pemakai perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
kas serta keputusan perolehannya. Perusahaan harus menyusun laporan arus kas
dan harus menyajikan laporan tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dilaporan keuangan untuk periode penyajian laporan keuangan.
Agar
menghasilkan keuntungan tambahan, perusahaan harus mempunyai kas untuk
ditanamkan kembali. Keuntungan yang dilaporkan dalam buku belum pasti dalam
bentuk kas. Sehingga dengan demikian perusahaan dapat mempunyai jumlah kas yang
lebih besar atau lebih kecil daripada jumlah keuntungan yang dilaporkan dalam
buku.
Menurut Arthur, J.
Keown, David F. Scott Jr, Jhon D. Martin, J. William Petty (2001:678) setiap
usulan pengeluaran modal (capital expenditure) selalu mengandung dua macam arus
kas, yaitu:
a.
Arus kas keluar netto (Net outflow of cash), yaitu:
arus kas yang diperlukan untuk investasi baru.
b.
Arus kas masuk netto (Net inflow of cash), yaitu:
sebagai hasil dari investasi baru tersebut, yang sering disebut “Net cash
proceeds.”
Pengertian
luas mengenai arus kas yang dari kegiatan penjualan atau kegiatan yang sama
dikurangi oleh semua biaya-biaya yang meliputi seluruh pengeluaran-pengeluaran
kas. Arus kas didefenisikan sebagai laba sebelum pajak dari suatu proyek,
ditambah dengan biaya penyusutan dan dikurangi laba bersih sebelum pajak tambahan
yang diakibatkan oleh proyek-proyek tersebut.
Laporan
arus kas melaporkan penerimaan kas, pembayaran kas dan perubahan bersih pada
kas yang berasal dari: Aktivitas Operasi, Investasi dan Pendanaan perusahaan
selama satu periode dalam suatu format yang menunjukkan bagaimana melaporkan
suatu rugi bersih dan tetap mengadakan pengeluaran modal yang besar atau
membayar deviden, atau akan menceritakan bagaimana perusahaan mengeluarkan atau
menaikkan hutang atau saham biasa atau keduanya selama periode tersebut.
Sedangkan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia , arus kas merupakan arus
kas masuk dan arus kas keluar.
Oleh
karena suatu perusahaan membuat suatu laporan biasanya secara periodik, maka
ketika menyiapkan laporan arus kas yang berdasarkan pendapatan, akumulasi
penyusutan, pinjaman modal dan pajak harus menunjukkan pemisahan antara
kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto yang berasal
dari: Aktivitas Operasi, Aktivitas Investasi dan Aktivitas Pendanaan.
Arus
kas adalah istilah yang digunakan untuk mengklasifikasikan arus kas (kas yang
diterima) dari kegiatan operasi. Istilah arus kas juga digunakan untuk
menunjukkan dana, dimana arus kas bersih mewakili perbedaan antara sumber dan
penerimaan. Dalam hal kepemilikan kas, perusahaan juga harus mampu melakukan
penyeimbangan. Artinya: apabila perusahaan memiliki saldo kas yang terlalu
besar, maka perusahaan akan mengalami kerugian dalam bentuk kehilangan
kesempatan untuk menginvestasikan dana tersebut pada kesempatan investasi lain
yang lebih menguntungkan. Sebaliknya apabila saldo kas terlalu rendah,
kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan likuiditas. Oleh karena itu, ada
beberapa model yang digunakan untuk membantu menentukan target saldo kas.
a. Model Baumol
Model
ini dikembangkan oleh William Baumol. Pada prinsipnya model persediaan (EOQ)
yang diterapkan pada manajemen kas. Biaya pesanan diganti dengan biaya
administrasi dan biaya transaksi pada waktu melakukan transfer kas menjadi surat berharga dan
sebaliknya. Untuk dapat menggunakan Model Baumol dengan baik, maka harus
didasarkan pada berbagai asumsi. Asumsi-asumsi tersebut, antara lain adalah:
1) Adanya kepastian
jumlah kas yang dibutuhkan setiap saat.
2)
Pengeluaran kas perusahaan tetap (konstan) dari waktu ke waktu.
3)
Pada saat kas dibutuhkan surat
berharga dengan segera dapat dijual.
4) Biaya yang
dikeluarkan untuk menjual surat
berharga menjadi kas adalah tetap untuk setiap transaksi, tanpa dipengaruhi
oleh jumlah atau nilai surat
berharga yang dijual.
Model Baumol
memberikan sumbangan penting bagi manjer keuangan dalam mengelola kas
perusahaan. Meskipun demikian ada beberapa keterbatasan dari model tersebut,
yaitu:
a). Model tersebut
mengasumsikan penggunaan kas yang konstan setiap periodenya. Dalam prakteknya,
pengeluaran kas tidaklah seluruhnya bisa dikendalikan oleh perusahaan.
b). Model tersebut
mengasumsikan bahwa selama interval waktu tertentu terdapat adanya kas masuk.
Dalam prakteknya perusahaan ada melakukan penerimaan kas dengan pengeluaran kas
setiap harinya.
c). Tidak mempertimbangkan
kemungkinan adanya persediaan kas untuk keamanan, dan sebagainya.
b. Model Miller-Orr
Model Miller-Orr
tepat digunakan untuk kondisi dimana pengeluaran kas ber-fluktuasi (tidak
konstan) dari waktu ke waktu secara random dan tingkat ketidakpastian
pembayaran kas yang cukup besar. Model ini pada dasarnya menentukan batas atas
dan batas bawah fluktuasi kas.Ide dasar model ini adalah apabila jumlah kas
mencapai batas atas, maka perusahaan membeli surat berharga untuk menurunkan kas,
sebaliknya apabila mencapai batas bawah maka perusahaan menjual surat berharga untuk
menambah kas. Selama kas berada antara batas atas dan batas bawah, maka
perusahaan tidak melakukan transaksi.
C. Analisis sumber dan Penggunaan Dana
Dalam suatu periode tertentu dalam perusahaan misalkan jangka
waktu dalam satu periode adalah selama satu tahun, laporan-laporan yang
disajikan perusahaan menunjukkan adanya penambahan atau pengurangan dana atau
kas. Analisis sumber dan
penggunaan dana merupakan alat penting bagi financial manager, untuk mengetahui
bagaimana dana digunakan dan bagaimana kebutuhan dana tersebut dibelanjai (
dengan analisa aliran dana itu akan dapat diketahui dari mana datangnya dana
dan untuk apa dana itu digunakan). Laporan sumber – sumber dan penggunaan dana suatu
perusahaan sangat penting artinya bagi bank dalam menilai permintaan kredit
yang diajukan kepadanya, dengan mengadakan analisa terhadap laporan tersebut
dapat diketahui bagaimana perusahaan itu menggunakan dana yang dimilikinya.
Analisa ini dimulai dari penyusunan neraca yang disusun atas dasar dua
neraca pada saat yang berbeda, sehingga dapat diketahui perubahan – perubahan yang terjadi pada masing – masing pos neraca, dari laporan perubahan
neraca itulah disusun laporan sumber – suber
dana dan penggunaan dana. Pengertian dana dalam analisis ini di bedakan dalam
dua katagori yaitu dalam pengertian kas dan modal kerja.
Penyusunan laporan sumber dan penggunaan
dana dalam pengertian kas adalah :
-
Membandingkan
kedua neraca untuk menyusun perubahan neraca pada masing - masing elemen
-
Menyusun
penggolongan dari unsur – unsur yang
memperbesar kas dan golongan atau unsur – unsur
yang memperkecil kas
-
Mengelompokan
unsur – unsur dalam laporan rugi laba, terutama
laba ditahan ke dalam golongan yang memperbesar kas dan memperkecil kas.
-
Mengadakan
konsolidasi dari semua informasi tersebut ke dalam laporan sumber – sumber dan penggunan dana.
Analisis sumber dana yang berasal dari :
1.
Penurunan bersih aktiva, kecuali aktiva tetap tetap dan
kas.
2.
Penurunan bruto aktiva tetap.
3.
Kenaikan bersih kewajiban dan hutang.
4.
Penambahan modal sendiri.
5.
Dana yang diperolehdari operasi.
Analisis
pengunaan dana :
1.
Kenaikan bersih aktiva, kecuali aktiva tetap dan kas.
2.
Penambahan bruto aktiva tetap.
3.
Penurunan kewajiban dan hutang.
4.
Pengurangan modal sendiri.
5.
Pembayaran dividen.
Analisis sumber dan pengunaan dana
lebih diarahkan pada penerapan matching principle dalam pendanaan. Prinsip ini
menyatakan pengunaan jangka panjang seharusnya didanai dengan dana jangka
panjang. Sedangkan dana jangka pendek hanya untuk keperluan jangka pendek.
Dengan demikian maka prinsip ini lebih menekankan pada pertimbangan likuiditas.
D. Implikasi dari Analisis Laporan Dana
Analisi
laporan sumber dan penggunaan dana memberikan wawasan bagi pihak-pihak yang
terkait terutama manajer keuangan dalam hal merencanakan ekspansi perusahaan
serta dampaknya pada likuiditas perusahaan. Ketidakseimbangan dalam penggunaan
pendanaan akan dapat dideteksi dan dilakukan penyesuaian. Jadi laporan sumber
dan pengguanaan dana memberi signal untuk masalah yang akan dianalisis dan
secara rinci dalam rangka pengambilan keputusan yang tepat. Analisi laporan
sumber dan pengunaan dana dimasa mendatang akan sangat berguna dalam
merencanakan pembelanjaan jangka menengah dan jangka panjang.
E. Perencanaan Keuangan
Perencanaan keuangan merupakan kegiatan
untuk memperkirakan posisi dan kondisi keuangan perusahaan di masa yang akan
datang (bisa jangka panjang ataupun jangka pendek). Untuk menyusun rencana
keuangan tersebut dipergunakan serangkaian asumsi, baik yang menyangkut
hubungan antar variable-variabel keuangan, maupun keputusan-keputusan keuangan.
1.
Perencanaan keuangan jangka panjang
Setiap perusahaan memiliki rencana yang
panjang kedepan atau sering disebut dengan perencanaan strategis, misalnya
melakukan investasi modal dalam jumlah yang cukup besar, disertai dengan
keputusan pendanaan tertentu. Oleh karena demikian maka disusun suatu laporan
keuangan yang diproyeksikan (atau laporan keuangan proforma), konsisten dengan
keputusan-keputusan keuangan yang diambil. Dengan mengunakan model-model
keuangan tertentu, perusahaan bisa memperkirakan posisi keuangannya apabila suatu
keputusan keuangan diambil. Terdapat beberapa model peramalan keuangan, yaitu :
Model presentase penjualan, yaitu suatu
model yang sering menggunakan dasar pemikiran bahwa perusahaan tentunya
memerlukan dana yang makin besar kalu akivitasnya meningkat. Ukuran aktivitas
ini adalah penjualan. salah satu asumsi penting dari model ini adalah bahwa
rekening-rekening yang berubah sesuai dengan penjualan, diasumsikan proporsinya
tetap tidak berubah. Karena itulah diberi nama model persentase penjualan (sales
percentage method). Karena untuk menggunakan model tersebut diperlukan :
a.
Identifikasi rekening-rekening yang berubah apabila
penjualan berubah.
b.
Kebijakan keuangan yang dianut oleh perusahaan.
Model-model lain. Kritik yang diberikan pada
metode presentase penjualan adalah bahwa rekening-rekening diasumsikan berubah
secara proporsional dengan pejualan. Umumnya diakui bahwa kalu penjualan
meningkat, suatu aktiva tentunya meningkat. Masalahnya adalah bahwa peningkatan
tersebut bisa saja tidak proporsional. Sebagai missal, bisa saja dirumuskan
bahwa hubungan hubungan antara suatu aktiva (missal persediaan) dengan
penjualan dinyatakan :
Y=20
+ 0,04X
Dalam hal ini Y adalah nilai persediaan dan X adalah
penjualan. Apabila penjualan diperkirakan sebesar Rp100 juta, maka persediaan
=20 + 0,04(100)= Rp. 24 Juta. Dinyatakan dalam persentase, maka persediaan
sebesar 24% dari penjualan.
2.
Perencanaan keuangan jangka pendek
Perencanaan
jangka pendek umumnya berdimensi waktu kurang dari 1 tahun. Tujuan utamanya
seringkali untuk menjaga likuiditas perusahaan. Alat yang dipergunakan adalah
dengan menyusun anggaran kas. Anggaran kas merupakan taksiran tentang kas masuk
dan kas keluar pada periode waktu tertentu.
F. Perencanaan Keuangan dan Kebutuhan
Investasi
Dalam usaha
menciptakan suatu perencanaan yang baik maka artinya manajer keuangan berusaha
menempatkan kajian dari sudut efisiensi
dan efektivitas. Efisiensi dilihat dari segi biaya dan efektivitas dilihat dari
segi waktu. Dengan menjadikan kedua kajian ini sebagai base thinking diharapkan
manajer keuangan mampu untuk menciptakan suatu rencana keuangan yang ekplisit.
Meurut
Stephen A. Ross dkk., untuk
mengenbangkan suatu rencana keuangan yang ekplisit, manajer harus menentukan
beberapa unsur-unsur dasar dari kebijakan keuangan perusahaan.
1.
Perusahaan membutuhkan investasi pada asset-aset baru.
Unsur ini akan timbul dari peluang-peluang investasi yang dipilih untuk
dilaksanakan perusahaan, dan merupakan hail dari keputusan penganggaran.
2.
Tingkat pengungkitan keuangan yang dipilih untuk
dipergunakan perusahaan. Hal ini akan menentukan jumlah pinjaman yang akan
digunakan oleh perusahaan untuk mendanai investasinya pada asset riil. Hal ini
adalah kebijakan struktur modal perusahaan.
3.
Jumlah kas yang dirasakan perlu dan layak untuk
dibayarkan kepada pemegang saham. Ini merupakan suatu kebijakan deviden
perusahaan.
4.
Jumlah likuiditas dan modal kerja yang dibutuhkan
perusahaan dalam operasi sehari-hari. Ini adalah keputusan modal kerja bersih
perusahaan.
Setiap
manajer keuangan berusaha menciptakan tingkat pertumbuhan yang ekplisit,
terutama secara jangka panjang. Banyak perusahaan yang menempatkan dana pada
asset yang bersifat jangka panjang dan penempatan asset yang bersifat jangka
panjang pada umumnya berjumlah sangat besar. Sebagai contohnya adalah pembelian
mesin, tanah, bangunana, kendaraan, dan sebagainya.
Investasi
pada jumlah asset dengan nilai yang besar menyebabkan perusahaan memikirkan
kapan terjadinya break even point. Bahkan jika break even point tidak tercapai
sesuai dengan standar waktu yang direncanakan maka artinya perencanaan
perusahaan tidak berkualitas.
G. Kondisi Perencanaan Keuangan
Dalam pembuatan perencanaan keuangan harus dipikirkan
kondisi-kondisi yang mungkin terjadi di kemuadian hari. Secara umum ada tiga
kondisi yang harus diantisipasi dalam pembuatan perencanaan keuangan, yaitu :
1.
Kondisi buruk
Kondisi buruk dalam dunia bisnis bisa dipengaruhi oleh
berbagai sebab, seperti resesi ekonomi, krisis moneter, peperangan dan lain
sebagainya. Dalam kondisi buruk ini suatu rencana bisnis harus dibuatkan
asumsi-asumsi dalam rangka mengantisipasi jika kondisi seperti itu akan terjadi
di kemudian hari.
2.
Kondisi normal dan biasa
Pada kondisi normal suatu perusahaan diminta membuat suatu
rencana dengan menempatkan asumsi-asumsi yang akan terjadi dalam kondisi
normal. Namun tetap dengan menempatkan analisa kehati-hatian yang mendalam jika
suatu saat terjadi kondisi yang buruk.
3.
Kondisi baik dan bertumbuh
Pada
kondisi ini dunia bisnis berkembang dengan baik, karena setiap perencanaan
bisnis dapat dijalankan dengan baik. Pada konteks ini Stephen A. Ross, dkk.,
mengatakan, “Masing-masing divisi akan diminta untuk membuat kasus berdasarkan
asumsi-asumsi yang optimis. Kasus ini data melibatkan produk-produk dan
ekspansi baru dan kemudian akan merinci pada pendanaan yang dibutuhkan untuk
mendanai eksapansi tersebut.
H. Model Perencanaan Keuangan
Suatu
model dibuat untuk membantu para manajer dalam memetakan masalah secara
terstruktur dan bersifat sistematis. Model adalah sebuah usaha yang dibangun
dengan berlandaskan berbagai asumsi yang ada, dan asumsi tersebut dibuat serta
diilhami dengan berdasarkan appa yang pernah terjadi di waktu-waktu sebelumnya.
Suatu model memiliki keeratan hubungan yang kuat dengan peramalan, karena suatu
model dianggap mampu memberikan peramalan.
Menurut
Stephen A. Ross dkk., bahwa “Masing-masing model dapat memiliki kompleksitas
yang bervariasi, tetapi hampir semuanya akan memiliki unsur-unsur yang akan
dibahas sebagai berikut :
-
Ramalan penjualan. Hampir semua rencana keuangan
meminta adanya ramalan penjualan yang diberikan secara eksternal.
-
Laporan Pro Forma. Sebuah rencana keuangan akan
memiliki ramalan neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas.
-
Persyaratan asset. Suatu rencana keuangan kan menguraikan proyeksi
belanja modal.
-
Persyaratan keuangan. Suatu rencana keuangan akan
memuat satu bagian tentang ketentuan pendanaan yang dibituhkan. Bagian ini
hendaknya mendiskusikan masalah kebijakan dividend dan kebijakan utang.
-
Penyeimbang (plug). Setelah perusahaan memiliki ramlan
penjualan dan estimasi mengenai belanja asset yang dibituhkan, seringkali akan
dibutuhkan sejumlah pendanaan baru karena proyeksi total asset akan melebihi
proyeksi total kewajiban dan ekuitas. Dengan kata lain neraca telah tidak
seimbang lagi.
-
Asumsi-asumsi perekonomian. Rencana tersebut akan harus
menyatakan secara ekplisit lingkungan perekonomoian di mana perusahaan berharap
akan berada sepanjang umur rencana.
I. Perencanaan Keuangan dan Perencanaan
Strategis
Seringkali
dalam melakukan prakiraan dan penyusunan rencana keuangan, analis cenderung
menggunakan model keuangan (financial modeling) yang rumit, lain halnya dengan
model presentase penjualan ataupun penyusunan anggaran kas yang lebih mudah.
Perencanaan keuangan dilakukan bersama-sama dengan penyusunan rencana
strategis. Perencanaan strategis merupakan upaya yang dilakukan secara sadar
untuk mempengaruhi posisi perusahaan dalam persaingan ,baik untuk masa kini dan
terutama untuk masa yang akan datang. Misal perusahaan mungkin ingin memilih
salah satu dari tiga strategi berikut dalam pengembangan usahanya
1.
Pertumbuhan agresif. Strategi ini beratri perusahaan akan mencoba
merebut pangsa pasar para pesaing,akibatnya perusahaan akan memerlukan dana
dari luar perusahaan dalam jumlah yagn cukup besar.
2. Pertumbuhan moderat. Strategi
ini berate bahwa pertumbuhan penjualan disebabkan karena pertumbuhan permintaan
dalam industri yang bersangkutan. Tudak ada upaya untuk merebut pangsa pasae
pesaing, pertumbuhan diharapkan dapat dibiayai dari hasil operasi
perusahaan(dana intern)
3. Memperkecil bisnis yang
dilakukan. Apabila produk yang dihasilkan diperkirakan sedah berada dalam tahap
akhir kedewasaan, maka perusahaan mungkin memutuskan untuk bersiap-siap
menambah dan /atau beralih kebisnis yang lain. Dana dari bisnis saat ini akan
diinvestasikan kebisnis lain.
Dengan
demikian pemilihan strategi perusahaan akan membawa dampak pada pembiayaan yang
harus disediakan oleh perusahaan. Masalah pendanaan ekstern dapat dipenuhi
bukan hanya dari hutang tetapi juga menambah modal sendiri. Karena itu
alternative penghimpuan dana dari pasar modal akan menjadi salah satu
alternative yang dipertimbangkan.
J.Perencanaan dan Pengendalian Keuangan
Dalam
membuat suatu perencanaan dan pengendalian keuangan yang baik, suatu perusahaan
akan berusaha menciptakan semua itu memiliki tujuan dan arti yang jelas.
Kejelasan itu bagi suatu perusahaan akan terlihat dalam perjalanan proses yang
berlangsung baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. Suatu konsep perencanaan
keuangan yang tidak baik akan bisa terlihat dalam jangka pendek.
Perencanaan
dan pengendalian keuangan melibatkan proyeksi-proyeksi berdasarkan standar dan
perkembangan dari umpan balik dan proses penyesuaian untuk memperbaiki prestasi
kerja. Perencanaan keuangan mencakup penjualan, laba, dan aktiva yang
didasarkan pada alternatif strategi produksi dan pemasaran untuk kemudian
bagaimana menentukan kebutuhan pendanaannya. Perencanaan Keuangan adalah proses
dari :
1. Menganalisis pendanaan dan pilihan investasi yang
terbuka bagi perusahaan.
2. Memproyeksikan konsekuensi masa yang akan datang
akibat keputusan saat ini, guna menghindari hal-hal yang tidak terduga dan
hubungan antara keputusan saat ini dan masa yang akan datang.
3. Menentukan alternatif mana yang akan dipilih
4. Mengukur hasil selanjutnya terhadap tujuan dalam
rencana keuangan.
Sistem
pengendalian perencanaan keuangan perlu diterapkan pada berbagai jenis usaha
bisnis. Penerapan pengendalian intern perlu dilakukan pada seluruh kegiatan
operasional perusahaan, termasuk yang paling utama yaitu sistem penjualan tunai
dan penerimaan kas. Sistem pengendalian intern bertujuan untuk mengamankan
harta perusahaan.
Dalam
pengertian yang lebih luas perusahaan merupakan organisasi yang terdiri dari
bagian yang saling berhubungan dan bekerjasama untuk beberapa maksud atau
sasaran. Perusahaan sebagai adalah satu pelaku ekonomi yang mempunyai tujuan
memperoleh laba yang wajar, perlu memiliki program dalam melaksanakan kegiatan.
Bagi perusahaan yang mengejar keuntungan dan berusaha mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan tentu akan menghadapi berbagai masalah yang akan
timbul sehubungan dengan kegiatan perusahaan.
Salah
satu contoh masalah yang dihadapi adalah bagaimana melaksanakan pengendalian
terhadap biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan. Pengendalian secara
menyuluruh dalam perusahaan karena hanya dengan demikian apa yang mungkin
dicapai oleh perusahaan dapat diketahui. Dalam dunia usaha, yang menjadi ukuran
keberhasilan perusahaan adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.
Semakin besar laba yang dihasilkan oleh perusahaan, maka dapat diketahui bahwa
perusahaan tersebut berhasil dengan baik dalam menjalankan usaha.
Memperbesar
jumlah laba dapat diilaksanakan melalui keputusan dengan berbagai macam cara
seperti menaikkan jumlah omset penjualan, meminimalkan biaya atau menaikkan
harga jual yang wajar. Perusahaan harus melaksanakan suatu pengendalian
terhadap biaya untuk menunjang pelaksanaan kegiatan operasional perusahaan. Pengendalian
biaya pada umumnya mencakup tiga fungsi manajemen antara lain:
1.
Fungsi planning melalui penetapan sasaran dan penyusunan rencana.
2.
Fungsi organizing pada tingkat operasional.
3.
Fungsi controlling melalui evaluasi terhadap tujuan yang telah dicapai.
Setiap
perusahaan yang ingin tetap berjalan harus mampu mempertahankan eksistensinya
dituntut untuk dapat bekerja secara maksimal, efisien dan efektif. Untuk itu
dibutuhkan tingkat kemampuan manajemen untuk mengendalikan perusahaan terutama
dalam meningkatkan kualitas. Apabila mekanisme operasi perusahaan relatif masih
sederhana, maka sistem pengendalian dilakukan dengan sistem pengawasan
langsung, tetapi jika perusahaan sudah beroperasi dengan skala besar dan
melibatkan beberapa bagian, maka manajemen tidak lagi mampu mengadakan
pengawsan langsung secara efektif.
Dalam
hal ini sistem pengendalian perlu dilengkapi dengan sistem pengendalian
wewenang dan sistem pertanggungjawaban dengan menggunakan laporan tertulis.
Anggaran adalah merupakan salah satu alat perencanaan keuangan perusahaan yang
sekaligus dipakai sebagai dasar sistem pengendalian (pengawasan) keuangan
perusahaan. Dengan tersusunnya rencana keuangan tersebut terhadap pimpinan
perusahaan dapat lebih mudah melakukan koordinasi dalam melakukan koordinasi
dalam melaksanakan tugasnya.
Dalam
proses pelaksanaan kegiatan perusahaan kita dapat menganalisa apakah anggaran
yang telah disusun dapat terlaksana sesuai rencana yang ditetapkan sebelumnya,
atau terdapat varians dalam melaksanakan varians yang terjadi dapat dilihat
pada akhir bulan atau akhir tahun dengan cara membandingkan antara anggaran dan
realisasinya. Varians yang selalu mutlak terjadi pada setiap anggaran
perusahaan perlu kita nilai apakah varians itu dapat dianggap sebagai suatu
yang wajar, artinya varians itu mutlak dan wajar tidak dapat dihindari atau
varians itu dianggap suatu yang tidap wajar, yang disebabkan oleh kurangnya
pengawsan dan terjadinya pemborosan.
Perusahaan
tidak terlepas dari perencanaan anggaran biaya operasional, mulai dari tahap
persiapan yang diperlukan sebelum penyusunan rencana penyusunan anggaran itu
sendiri. Implementasi dari rencana tersebut sampai akhir tahap pengawsan dan
evaluasi dari hasil rencana tersebut.
BAB III
PENUTUP
Perencanaan
keuangan merupakan salah satu bagian dari proses perencanaan organisasi
(corporate planning). Dari perencanaan diharapkan perusahaan dapat menghindari
kesalahan-kesalahan, menghasilkan keputusan yang terbaik yang pada akhirnya
mampu meningkatkan kinerja dari suatu perusahaan.
Perencanaan
keuangan dimaksudkan untuk memperkirakan posisi dan kondisi keuangan di masa
yang akan datang. Dengan demikian dapat diperkirakan apakah kondisi perusahaan
perlu menambah dana dari luar, bagaimana profitabilitas perusahaan di masa yang
akan datang dan sebagainya.
Sebelum
menyusun rencana keuangan, maka ada beberapa hal yang harus dipahami dalam
suatu perusahaan. Salah satu hal penting yang harus dianalisis adalah arus kas
suatu perusahaan. Arus dana yang terjadi di dalam suatu perusahaan sering juga
dikatakan sebagai perputaran modal kerja. Arus dana adalah cerminan bagaimana
sistem aliran dana yang terjadi dalam suatu perusahaan. Sehingga dengan
diketahui aliran dana ini, maka bagi pihak pengambil keputusan akan dapat
menentukan dalam menetapkan kebutuhan dana perusahaan, darimana akan dibiayai
serta bagaimana penggunaannya.
Dalam membuat suatu perencanaan dan pengendalian keuangan
yang baik, suatu perusahaan akan berusaha menciptakan semua itu memiliki tujuan
dan arti yang jelas. Kejelasan itu bagi suatu perusahaan akan terlihat dalam
perjalanan proses yang berlangsung baik secara jangka pendek maupun jangka
panjang. Suatu konsep perencanaan keuangan yang tidak baik akan bisa terlihat
dalam jangka pendek.
Daftar
Pustaka
Fahmi, Irham. 2012. Pengantar Manajemen Keuangan. Cet. 1. Alfabeta: Bandung .
http://cahyoyahuud.blogspot.com/2013/06/perencanaan-dan-pengendalian-keuangan.html.(25
September 2013)
http://dedesuharna.wordpress.com/2010/05/07/perencanaan-dan-pengendalian-keuangan-perusahaan/.(25
September 2013)
Husnan, Suad dan Enny Pudjiastuti. 2006. “Dasar-dasar Manajemen Keuangan”. UPP STIM YKPN: Yogyakarata.
Harmono. 2011. Manajemen Keuangan. Bumi
Aksara: Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar