Sabtu, 23 November 2013

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

BAB I
PENDAHULUAN

Analisis laporan keuangan perusahaan merupakan pembahasan yang sangat penting dalam bidang manajemen keuangan. Menganalisis laporan keuangan berarti kita menilai kinerja perusahaan, baik secara internal perusahaan maupun dibandingkan dengan industrinya. Hal ini berguna bagi perkembangan perusahaan, untuk mengetahui seberapa efektifkah perusahaan mereka bekerja. Analisis ini sangat berguna tidak hanya bagi internal perusahaan, tapi juga investor serta stakeholder lainnya.
Analisis laporan keuangan - sebagian pihak merasa perlu untuk melakukan analisis laporan keuangan suatu perusahaan, seperti para pihak investor dan para pihak kreditor. Para pihak kreditor mungkin melihat laporan keuangan perusahaan dan menganalisisnya untuk melihat bagaimana kondisi kesehatan perusahaan, sedangkan untuk pihak investor tentu saja untuk melihat apakah layak perusahaan tersebut untuk diinvestasi.
Analisis keuangan digunakan untuk menilai kelangsungan usaha, stabilitas, profitabilitas dari suatu usaha, sub usaha atapun proyek. Analisis keuangan dilakukan oleh seorang profesional yang menyajikan laporan dalam bentuk rasio yang menggunakan informasi sebagaimana tersaji dalam laporan keuangan. Laporan ini biasanya disajikan kepada pimpinan puncak suatu usaha sebagai acuan untuk mengambil suatu kebijakan perusahaan.
Berdasarkan hasil analisis ini maka manajemen dapat memutuskan berbagai keputusan manajemen misalnya :
·         Melanjutkan atau tidak melanjutkan operasional suatu usaha atau bagian dari suatu usaha.
·         Melakukan pembuatan atau pembelian bahan baku dalam proses produksi
·         Melakukan pembelian atau menyewa mesin-mesin produksi
·         Melakukan penerbitan saham atau melakukan negosiasi untuk memperoleh pinjaman bank guna meningkatkan modal kerja perseroan.
·         Berbagai keputusan lainnya yang memungkinkan manajemen melakukan pilihan yang tepat terhadap berbagai alternatif yang ada dalam mengelola perusahaan.



  

BAB II
URAIAN MATERI ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

A.    Pengertian Laporan Keuangan
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009:1), laporan keuangan meliputi bagian dari proses laporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas/laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Menurut Munawir (2010:5), pada umumnya laporan keuangan itu terdiri dari neraca dan perhitungan laba-rugi serta laporan perubahan ekuitas. Neraca menunjukkan/menggambarkan jumlah aset, kewajiban dan ekuitas dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu. Sedangkan perhitungan (laporan) laba-rugi memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta beban yang terjadi selama periode tertentu, dan laporan perubahan ekuitas menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan ekuitas perusahaan. Sedangkan menurut Harahap (2009:105), laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan laba-rugi atau hasil usaha, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, laporan posisi keuangan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan untuk perusahaan terdiri dari laporan-laporan yang melaporkan posisi keuangan perusahaan pada suatu waktu tertentu, yang dilaporkan dalam neraca dan perhitungan laba-rugi serta laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas, dimana neraca menunjukkan jumlah aset, kewajiban dan ekuitas perusahaan. Laporan laba-rugi menunjukkan hasil operasi perusahaan selama periode tertentu. Sedangkan laporan perubahan ekuitas menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan ekuitas perusahaan.
B.     Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009:3), tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Sedangkan menurut Fahmi (2011:28), tujuan utama dari laporan keuangan adalah memberikan informasi keuangan yang mencakup perubahan dari unsur-unsur laporan keuangan yang ditujukan kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam menilai kinerja keuangan terhadap perusahaan di samping pihak manajemen perusahaan. 
Para pemakai laporan akan menggunakannya untuk meramalkan, membandingkan, dan menilai dampak keuangan yang timbul dari keputusan ekonomis yang diambilnya. Informasi mengenai dampak keuangan yang timbul tadi sangat berguna bagi pemakai untuk meramalkan, membandingkan dan menilai keuangan. Seandainya nilai uang tidak stabil, maka hal ini akan dijelaskan dalam laporan keuangan. Laporan keuangan akan lebih bermanfaat apabila yang dilaporkan tidak saja aspek-aspek kuantitatif, tetapi mencakup penjelasan-penjelasan lainnya yang dirasakan perlu. Dan informasi ini harus faktual dan dapat diukur secara objektif.
Beberapa tujuan laporan keuangan dari berbagai sumber di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.Informasi posisi laporan keuangan yang dihasilkan dari kinerja dan aset perusahaan sangat dibutuhkan oleh para pemakai laporan keuangan, sebagai bahan evaluasi dan perbandingan untuk melihat dampak keuangan yang timbul dari keputusan ekonomis yang diambilnya.
2.Informasi keuangan perusahaan diperlukan juga untuk menilai dan meramalkan apakah perusahaan di masa sekarang dan di masa yang akan datang sehingga akan menghasilkan keuntungan yang sama atau lebih menguntungkan.
3.Informasi perubahan posisi keuangan perusahaan bermanfaat untuk menilai aktivitas investasi, pendanaan dan operasi perusahaan selama periode tertentu. Selain untuk menilai kemampuan perusahaan, laporan keuangan juga bertujuan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.
C.    Pengertian analisis laporan keuangan

            Analisa laporan keuangan merupakan proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevalusi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang. analisa laporan keuangan sebenarnya banyak sekali menggunakan analisa rasio keuangan karena analisa ini lebih sering digunakan dan lebih sederhana.

Analisis Laporan Keuangan merupakan penggunaan laporan keuangan untuk menganalisis posisi dan kinerja keuangan perusahaan serta untuk menilai kinerja keuangan di masa depan.
Analisa Laporan Keuangan terdiri dari dua kata Analisa dan Laporan Keuangan. Untuk menjelaskan pengertian kata ini maka kita dapat menjelaskannya dari arti masing-masing kata. Kata analisa adalah memecahkan atau menguraikan sesuatu unit menjadi berbagai unit terkecil. Sedangkan laporan keuangan adalah Neraca, Laba/Rugi, dan Arus Kas (Dana). Kalau dua pengertian ini digabungkan maka analisa laporan keuangan berarti:
Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data nonkuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat (Sofian Syafri Harahap, 1998:190)
menurut beberapa ahli, pengertian analisis laporan keuangan adalah:
Menurut Drs. Djarwanto P.S, Analisis laporan keuangan adalah merupakan suatu proses analisis terhadap laporan keuangan, dengan tujuan untuk memberikan tambahan informasi kepada para pemakai laporan keuangan untuk pengambilan keputusan ekonomi, sehingga kualitas keputusan yang di ambil akan menjadi lebih baik.
Menurut Dwi Prastowo D, MM, Akt, Analisis laporan keuangan adalah suatu proses membedah - bedah laporan keuangan ke dalam komponen-komponennya. Penelaahan mendalam terhadap masing-masing komponen dan hubungan di antara komponen-komponen tersebut akan menghasilkan pemahaman menyeluruh atas laporan keuangan itu sendiri.
Menurut Soemarso (2006:430), Analisis laporan keuangan adalah hubungan antara suatu angka dalam laporan keuangan dengan angka lain yang mempunyai makna atau dapat menjelaskan arah perubahan (trend) suatu fenomena.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia, Analisis laporan keuangan adalah analisis terhadap neraca dan perhitungan rugi laba serta segala keterangan-keterangan yang dimuat dalam lampiran-lampirannya untuk mengetahui gambaran tentang posisi keuangan dan perkembangan usaha perusahaan yang bersangkutan.
D.    Tujuan Analisis Keuangan
1.      Investasi Pada Saham Analisis resiko difokuskan pada kemampuan perusahaan melewati masa-masa sulit dan kemudian memproyeksikan kemampuan ini untuk periode-periode masa yang akan datang.
2.      Pemberian Kredit
Menilai kemampuan perusahaan untuk mengembalikan pinjaman yang diberikan beserta bunga yang berkaitan dengan pinjaman tersebut.
3.      Kesehatan Pemasok
Menganalisis profitabilias perusahaan pemasok, kondisi keuangan, kemampuan untuk menghasilkan kas untuk memenuhi operasinya sehari-harinya, dan kemampuan membayar kewajibannya pada saat jatuh tempo.
4.        Kesehatan Pelanggan
Menilai kemampuan pelanggan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Analisis meliputi Besarnya kredit, jangka waktu kredit, jenis usaha pelanggan, besar kecilnya usaha pelanggan
5.      Kesehatan perusahaan ditinjau dari karyawan
Memastikan apakah perusahaan yang akan dimasuki tersebut mempunyai prospek keuangan yang bagus. Faktor yang dianalisis adalah profitabilitas perusahaan, kondisi keuangan perusahaan, dan kemampuan menghasilkan kas dari perusahaan
6.      Pemerintah
Menentukan besarnya pajak yang harus dibayarkan, menentukan tingkat keuntungan yang wajar bagi suatu industri, dan menganalisis layak tidaknya perusahaan melakukan go public
7.      Analisis Internal
Menentukan sejauh mana perkembangan perusahaan sebagai bahan evaluasi prestasi manajemen, dan digunakan oleh manajemen sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dan perencanaan serta untuk evaluasi perubahan strategi
8.      Analisis Pesaing
Menentukan sejauh mana kekuatan keuangan pesaing yang digunakan untuk penentuan strategi perusahaan misalnya penentuan harga, strategi merebut pangsa pasar.
9.      Penilaian kerusakan
Menentukan besarnya kerusakan yang dialami perusahaan dalam rangka untuk mengganti kerugian
Menurut Kasmir (2011:68), tujuan dari analisis laporan keuangan adalah:
1.    Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam satu periode tertentu, baik aset, kewajiban, ekuitas, maupun hasil usaha yang telah dicapai untuk beberapa periode.
2.    Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan apa saja yang menjadi kekurangan perusahaan.
3.    Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan yang dimiliki.
4.    Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukan ke depan berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan saat ini.
5.    Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen ke depan apakah perlu penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau gagal.
6.    Dapat juga digunakan sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis tentang hasil yang mereka capai.
   Menurut Munawir (2010:31), tujuan analisis laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan yang bersangkutan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk dua periode atau lebih, dan dianalisa lebih lanjut sehingga akan dapat diperoleh data yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil.
E.     Penggunaan rasio-rasio financial perusahaan
Sebelum membicarakan metode yang digunakan dalam menghitung dan menginterpretasikan rasio-rasio financial perusahaan, maka ada baiknya apabila terlebih dahulu dibicarakan siapa saja yang berkepentingan terhadap ratio-ratio financial tersebut.
Pada umumnya ada tiga kelompok yang paling bekepentingan dengan rasio-rasio financial, yaitu : pemegang saham dan calon pemegang saham, kreditur dan calon kreditur serta manajemen perusahaan.
Para pemegang saham dan calon pemegang saham menaruh perhatian utama pada tingkat keuntungan, bai yang sekarang maupun kemungkinan tingkat keuntungan di masa yang akan datang. Hal ini sangat penting bagi para pera pemegang saham dan calon pemegang saham karena seperti yang telah disebutkan di awal bahwa tingkat keuntungan ini akan mempengaruhi harga saham-saham yang mereka miliki. Disamping tingkat keuntungan, para pemegang saham dan calon pemegang saham juga berkepentingan dengan tingkat likuiditas, aktivitas serta leverage sebagai factor lain dalam penilaian kelanjutan hidup perusahaan serta proyeksi terhadap distribusi income pada masa-masa yang akan datang.
Para kreditur pada umumnya merasa berkepentingan terhadap kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban-kewajiban financial baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kreditur yang pada saat ini sudah memberikan pinjaman kepada perusahaan ingin mendapatkan suatu jaminan bahwa perusahaan tempat mereka menanamkan modalnya akan mampu membayar bunga dan pinjaman pokok tepat pada waktunya. Sedangkan calon kreditur lebih menekankan pada struktur financial dan struktur modal perusahaan.
Pertanyaan yang diajukan biasanya diajukan adalah “apakah tambahan pinjaman tidak akan memperbesar risiko bagi calon kreditur?” dengan perkataan lain,calon kreditur lebih mementingkan segi keamanan dari modal yang akan mereka pinjamkan. Hal ini tidak berarti bahwa kreditur yang sekarang sudah meminjamkan uangnya tidak mementingkan segi keamanan darimodal yang mereka pinjamkan tetapi dengan adanya tambahan pinjaman berarti modal pinjaman di dalam perusahaan akan semakin besar, sehingga risiko pun akan bertambah besar juga. Factor lain yang juga penting bagi calon kreditur adalah “apakah perusahaan tersebut cukup sehat dan bisa diperkirakan akan tetap mencapai kesuksesan pada masa-masa selanjutnya?”.
Kelompok ketiga yang juga berkepentingan dengan rasio financial ini adalah manajemen perusahaan sendiri. Manajemen perusahaan merasa berkepentingan dengan seluruh keadaam keuangan perusahaan karena mereka menyadari bahwa hal-hal tersebutlah yang akan dinilai para pemilik perusahaan maupun kreditur. Jadi sudah tentu dalam hal ini manajemen perusahaan akan selalu berusaha/mempertahankan rasio-rasio yang dianggap baik oleh kedua kelompo sebelumnya.
Apabila perusahaan berhasil dengan baik, maka harga saham-sahamnya akandapat dinaikkan atau setidak-tidaknya dipertahankan pada tngkat yang menguntungkan., sehingga kemampuan perusahaan untuk menarik modal baik dengan penjualan saham-saham maupun dengan penjualan obligasi akan semakain bertambah besar. Disamping itu untuk memonitor keadaan perusahaan dari satu period eke periode lain. Adanya perubahan-perubahan yang tidak diharapkan akan segera diketahui dan kemudian dicari langkah-langkah pemecahannya.
F.     Laporan keuangan yang pokok
Pada umumnya laporan keuangan yang disusun oleh prusahaan meliputi : neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan dan catatan atas laporan keuangan. Neraca menunjukkan posisi kekayaan perusahaan,kewajiban perusahaan, dan modal sendiri perusahaan pada waktu tertentu. Kekayaan disajikan pada sisi aktiva, sedangkan kewajiban disajikan disisi pasiva. Pada neraca kita lihat bahwa :
            Kekayaan = kewajiban + modal sendiri
Laporan laba rugi, laporan laba rugi merupakan laporan yang menunjukkan laba atau rugi yang diperoleh oleh perusahaan dalam periode tertentu.
            Laba atau rugi = penghasilan dari penjualan – biaya atau ongkos.
Untuk dapat menggambarkan secara jelas sifat dan perkembangan yang dialami oleh perusahaan dari waktu ke waktu maka sangat dianjurkan agar perusahaan menyusun laporan keuangan komparatif. Laporan keuangan komparatif ini setidaknya untuk dua periode atau untuk dua tahun terakhir. Apabila neraca dapat disusun sistematis, maka akan memberikan gambaran mengenai posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu.
Mereka yang melakukan analisis laporan keuangan pada dasarnya ingin mengetahui apakah kondisi dan kinerja keuangan perusahaan baik. Kalau mempunyai kelemahan, dalam aspek apa kelemahan tersebut? Dan sebagainya. Karena sulitnya memahami laporan keuangan dalam bentuk aslinya, maka kemudian ditempuh berbagai cara untuk melakukan analisis, seperti analisis common size, analisis indeks, dan analsis rasio keuangan.
G.    Analisis common size
Analisis ini merubah angka-angka yang ada dalam neraca dan laporan laba rugi menjadi presentase berdasarkan dasar tertentu. Untuk angka-angka yang ada dalam neraca, common basenya adalah total aktiva. Dengan kata lain total aktiva dipergunakan sebagai 100%. Untuk angka dalam laporan laba rugi, penjualan neto dipergunakan sebagai 100%.
Penyajian dalam common size akan mempermudah pembaca laporan keuangan memerhatikan perubahan-perubahan yang terjadi dalam neraca.

H.    Analisis indeks
Analisis indeks/trend adalah asalah satu metode analisis laporan keuang untuk mengetahui kecenderungan atau tendendi keadaan keuangan duatu perusahaan apakah naik, turun atau tetap. Kecenderungan posisi keuangan yang disusun untuk tiga periode atau lebih. Untuk melihat trend tersebut digunakan angka indeks 100. Oleh karena itu teknk analisisnya disebut analisis indeks.
Analisis ini merubah semua angka dalam laporan keuangan pada tahun dasar menjadi 100. Pemilihan tahun dasar bukanlah selalu tahun yang paling awal, tetapi tahun yang diangga normal. Dengan demikian analisis ini dilakukan untuk membandingkan perkembangan dari waktu ke waktu. Berdasarkan sifat analisis tersebut maka hanya laporan neracalah yang bias disajikan dalam bentuk indeks karena untuk laporan laba rugi hanya tersedia satu tahun pelaporan.
Cara penyusunan laporan dengan indeks :
a.       Menentukan tahun dasar.
b.      Menentukan angka indeks pada periode tahun yang dianalisis.
c.       Pos-pos dari periode laporan yang dianalisis dibandingkan dengan pos-pos yang sama dalam laporan keuangan tahun dasar.
d.      Dalam menghitung rasio trend/kecenderungan pada umumnya tidak semua pos-pos neraca dan laporan laba rugi dari beberapa periode tersebut dihitung, karena tujuan utama dari perhitungan rasio adalah membut perbandingan anntara pos-pos yang mempunyai hubungan informasi dengan pos-pos lainnya.
Trend dari suatu pos neraca atau aba rugi hanyalah merupakan data, dan belum menjadi informasi. Ia akan menjadi informasi kalau dikaitkan dengan pos-pos lainnya. Misalkan kenaikan penjualan dikaitkan dengan : aktiva produktif dalam periode yang sama, harga pokok penjualan dan biaya operasi.
            Kecenderungan naiknya penjualan selama beberapa periode dikaitkan dengan aktiva yang beroperasi/produktif dalam periode yang sama akan diperoleh informasi besarnya tingkat perputaran aktiva.

I.       Analisis rasio keuangan
Di dalam analisis rasio, kita tentu akan membahas rasio keuangan perusahaan, yaitu hubungan yang ditentukan dari informasi keuangan perusahaan dan digunakan sebagai tujuan perbandingan.
Untuk melakukan analisis rasio keungan diperlukan perhitungan rasio-rasio keuakangan yang mencerminkan aspek-aspek tertentu. Raso-rasio keunagna mungkin dihitung berdasarkan atas angka-angka yang ada dalam neraca saja, dalam laporan laba rugi saja ataupun dalam neraca maupun dalam laporan laba rugi. Setiap analisis keuangan bias daja merumuskan rasio tertentu yang dianggap mencerminkan aspek tertentu. Karena itu pertanyaan pertama yang perlu dijawab adalah aspek-aspek aa yang akan dinilai. Pemilihan aspek-aspek yang akan dinilai perlu diakitkan dengan tujuan analisis. Apabila analisis dilakukan oleh piahk kreditur, aspek yang dinilai akan berbeda dengan penilaian yang dilakukan oleh calon pemodal. Kreditur akan lebi berkepentingan dengan kemampuan perusahaan melunasi kewajiban financial tepat pada waktunya. Sedangkan pemodal secara akan lebih berkepentingan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. Secara keseluruhan, aspek-aspek yang dinilai biasanya diklasifikasi menjadi rasio leverage, aspek likuiditas, aspek profitabilitas atau efisiensi, dan raso-raso nilai pasar.
1.      Rasio-rasio leverage
Rasio ini mengukur seberapa jauh perusahaan menggunakan hutang. Beberapa analisis menggunakan istilah rasio solvabilitas, yang berarti kemamouan perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya. Beberapa rasio yang dipergunakan adalah :
a.      Rasio Hutang
Rasio hutang dihitung berdasarkan hutang jangka panjang (termasuk kewajiban membayar sewa guna atau leasing), dan seluruh hutang. Yang dinyatakan dalam rumus:
rasio hutang =                         Hutang jangka panjang + sewa                      
                        Hutang jangka panjang + sewa guna+ modal sendiri


b.      Debt to equity ratio
Rasio ini menunjukkan perbandingan antara hutang dengan modal sendiri. Dinyatakan dalam rumus :
Debt to equity ratio =             Total kewajiban
                                    Modal sendiri
c.       Times interest earned
Rasio ini mengukur seberapa banyak laba operasi (kadang juga ditambah dengan penyusutan) mampu membayar bunga hutang. Dinyatakan dalam rumus :
Times interest earned = Laba Operasi (+ penyusutan)
                                                            Bunga
d.      Debt service coverage
Kewajiban financial yang timbul karena menggnakan hutang tidak hanya karena membayar bunga dan sewa guna (leasing). Ada juga kewajiban dalam bentuk pembayaran angsuran pokok pinjaman. Debt service coverage dinyatakan dalam rumus :
DSC =                         Laba operasi + penyusutan                
            Bunga + sewa guna + Angsuran pokok pinjaman
                                                            (1 – t)
t = tariff pajak penghasilan (income tax)
2.      Rasio-rasio likuiditas
Rasio likuiditas mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek. Rasio-rasio yang dipergunakan :

a.      Modal kerja neto dengan total aktiva
Aktiva lancar adalah aktiva yang diharapkan berubah menjadi kas dalam jangka waktu yang singkat (biasanya kurang dari satu tahun). Sedangkan kewajiban lancar menunjukkan kewajiban yang harus dipenuhi dalam waktu dekat. Perbedan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar disebut sebagai modal kerja neto. Modal kerja neto menunjukkan secara kasar, potensi cadangan kas dari perusahaan. Rasio ini dinyatakn adalm rumus :
NWC-TA = Modal kerja neto
Total aktiva
            NWC = Net Working Capital
b.      Current ratio
Rasio ini mengukur seberapa jauh aktiva lancar perusahaan bisa dipakai untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Rasio ini dinyatakan dalam rumus :
Current ratio =            Aktiva lancar              
                                    Kewajiban Lancar
c.       Quick atau acid test ratio
Karena persediaan merupakan aktiva lancar yang memerlukan jangka waktu paling lama untuk berubah menjadi kas (yaitu harus melewati bentuk piutang terlebih dahulu), dan tingkat kepastian nilainya rendah (harga persediaan mungkin tidak seperti yang tercantum dalam neraca, terutama untuk persediaan barang dalam proses), maka rekening persediaan dikeluarkan dari perhitungan. Dengan demikian maka dapat dinyatak dalam rumus:
Quick Ratio = (Aktiva lancar – persediaan )
                             Kewajiban Lancar



3.      Rasio-rasio profitabilitas atau efisiensi
Rasio-rasio in dimaksudkan untuk mengukur efisiensi penggunaan aktiva perusahaan ataupun efisiensi yang dikaitkan dengan penjualan yang berhasil diciptakan. Sebagai contoh ada perusahaan yang mengambil keuntungan relative cukup tinggi dari setiap penjualan (misal penjualan meubel, perhiasan, dsb). Ada pula yang mengambil keuntungan relative cukup rendah ( barang-barang keperluan sehari-hari).
a.      Rentabilitas Ekonomi
Rasio ini mengukur kemampuan aktiva perusahaan memperoleh laba dari operasi perusahaan. Karena hasil operasi yang ingin diukur, maka dipergunakan laba sebelum bunga dan pajak. Aktiva yang dipergunakan untuk mengukur kemampuan memperoleh laba operasi adalah aktiva operasional. Kalau perusahaan mempunyai aktiva non-operasional, aktiva ini perlu dikeluarkan dari perhitungan. Masalah yang timbul dalam perhitungan rentabilitas ekonomi adalah apakah kita menggunakan aktiva perusahaan pada awal tahun,pda akhir tahun atau rata-rata. Apabila dimungkinkan sebaiknya digunakan angka rata-rata.
            Mereka yang menggunakan angka pada awal periode mendasarkan diri atas argumentasi sebagai berikut. Misalkan kita mempunyai uang saat ini sebesar Rp.100 juta. Setelah dipergunakan selama satu tahun uang tersebut menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 20 Juta. Dengan demikian tingkat keuntungan yang diperoleh selama satu tahun adalah 20%. Meskipun pada akhir tahun kekayaan kita telah menjadi Rp. 120 Juta (yaitu Rp.100 Juta plus Rp. 20 Juta). Perhitungan angka 20% tersebut mendasarkan diri pada kekayaan pada awal periode.
            Mereka yang menggunakan angka pada akhir periode lebih sering didasarkan atas tersedianya data. Sebagai missal, kalau kita ingin mengetahui kondisi keuangan perusahaan pada tahun 2012, kemungkinan besar kita akan memperoleh laporan keuangan dalam bentuk neraca pada akhir tahun 2012 dan laporan laba rugi selama tahun 2012. Dengan demikian kalau kita bandingkan keuntungan dan kekayaan dari dua informasi keuangan tersebut, maka kita menggunakan kekayaan akhir tahun.
            Karena keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan mungkin sekali diperoleh sedikit demi sedikit sepanjang waktu (setiap hari, atau setiap minggu), maka pertambahan kekayaan perusahaan terjadi sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu. Karena itulah kemudian dipergunakan angka rata-rata selama periode tersebut. Rasio rentabilitas ekonomi dirumuskan sebagai berikut :
            Rentabilitas ekonomi =           laba operasi       x 100%
                                                Rata-rata Aktiva
b.      Rentabilitas modal sendiri
Rasio ini mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri. Karena itu dipergunakan angka laba setelah pajak. Angka modal sendiri juga sebaiknya dipergunakan angka rata-rata. Rasio ini dinyatakan sebagai berikut :
            Rentabilitas modal sendiri =   Laba setelah pajak       x 100%
                                                            Rata-rata modal sendiri
c.       Return on Investment
ROI menunjukkan seberapa banyak laba bersih yang bisa diperoleh dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan. Karena itu dipergunakan angka laba setelah pajak dan rata-rata kekayaan perusahaan. Mengapa ada yang menggunakan ROI dan ada juga yang menggunakan rentabilitas ekonomi,akan dijelaskan nanti pada perbandingan antara rentabilitas ekonomi dan ROI. Rasio ROI dapat dinyatakn dalam rumus sebagai berikut :
            ROI = Laba setelah pajak   x 100%
                        Rata-rata kekayaan

d.      Profit Margin
Rasio ini mengukur seberapa banyak keuntungan operasional bisa diperoleh dari setiap rupiah penjualan. Karena itu rasionya dinyatakan sebagai berikut :
Profit Margin =   Laba operasi   x 100%
                              Penjualan
e.       Perputaran Aktiva
Rasio ini mengukur seberapa banyak penjualn bisa diciptakan dari setiap rupiah aktiva yang dimiliki. Karena itu rasionya adalah :
Perputaran aktiva =           Penjualan        
                                   Rata-rata aktiva
f.       Perputaran piutang
Rasio ini mengukur seberapa cepat piutang dilunasi dalam satu tahun. Apabila perputaran piutang sebesar 4x, maka berarti bahwa rata-rata piutang tersebut dilunasi dalam jangka waktu 360 hari/4 = 90 hari. Rasioanya adalah :
            Perputaran piutang =      Penjualan kredit      
                                                  Rata-rata piutang
g.      Perputaran persediaan
Rasio ini mengukur berapa lama rata-rata barang berada di gudang. Pemikirannya adalah bahwa kenaikan persediaan disebabkan oleh peningkatan aktivitas, atau karena peruahan kebijakan persediaan. Kalau terjadi kenaikan persediaan yang tidak proporsional dengan peningkatan aktivitas, maka berarti terjadi pemborosan dalam pengelolaan persediaan. Rasionya sebagai berikut :
            Perputaran persediaan = Harga pokok penjualan
                                                   Rata-rata persediaan
4.      Rasio-rasio nilai pasar
Rasio-rasio ini menggunakan angka yang diperoleh dari laporan keuangan dan pasar modal. Beberapa rasio tersebut :
a.      Price earnings ratio
Rasio ini membandingkan antara harga saham (yang diperoleh dari pasar modal) dan laba per lembar saham yang diperoleh pemilik perusahaan (disajikan dalam laporan keuangan). Rasio ini dihitung dengan :
      Price Earnings Ratio =            Harga Saham              
                                               Laba per lembar saham
b.      Market to book value ratio
Rasio ini dinyatakan sebagai berikut :
Market to book ratio =      Harga Saham  
                                    Nilai buku per saham
J.      Metode Analisis Rasio Laporan Keuangan
Analisis keuangan seringkali menggunakan rasio keuangan dari tingkat solvabilitas , profitabilitas, pertumbuhan usaha.
1.       Kinerja masa lalu untuk suatu masa tertentu misalnya selama 5 tahun
  1. Kinerja mendatang: menggunakan figur kinerja masa lalu dan teknik matematika serta statistik, termasuk nilai sekarang dan nilai mendatang. Metode perhitungan ini adalah merupakan penyebab dari kesalahan analisis keuangan dimana statistik masa lalu dapat menyebabkan rendahnya prediksi masa mendatang.
  2. Perbandingan kinerja yaitu membandingkan kinerja antara beberapa perusahaan dalam industri sejenis.

K.    Penggunaan data keuangan dari laporan keuangan
Analisis keuangan mengguankan data dari laporan keuangan yang disusun menurut prinsip-prinsip akuntansi. karena perusahaan mungkin saja menggunakan metode costing dayang berbeda dan tidak melanggar prinsip akuntansi. Perusahaan bisa mencatat, misalnya persediaan berdasarkan atas metode FIFO, LIFO ataupun rata-rata. Perusahaan bisa juga mengkapitalisir suatu pengeluaran riset dan pengembangan (sehingga dicatat pada neraca dan disusut setiap tahun), tetapi bisa juga membebankan semua biaya riset dan pengembangan pada tahun tertentu. Keduanya tidak melanggar prinsip akuntansi. Karena itulah analisis keuangan perlu memahami kemungkinan-kemungkinan ini sewaktumelakukan perbandingan.
Masalah yang tidak kalah pentingnya adalah pengaruh inflasi pada laporan keuangan. Dalam keadaan tingkat inflasi mencapai hanya 4-5% per tahun. Penggunaan historical costs mungkin tidak terlalu menimbulkan distorsi pada laporan keuangan. Tetapi apabila tingkat inflasi cukup tinggi (misalkan sudah mencapai double digits), inflasi akan menimbulkan distorsi pada laporan keuangan. Ada rekening-rekening yang cenderung overstated, understated tetapi ada juag yang tidak terpengaruh. Yang menjadi masalah adalah kalau kita menghitung rasio keuangan dan salah satu rekening (mungkin pembilang atau penyebutnya terpengaruh oleh inflasi). Sebagai missal aktiva lancar akan understated sedangkan kewajiban lancar tidak terpengaruh oleh inflasi. Dengan demikian maka perhitungan current rasio akan menjadi understated, demikian pula sebaliknya.
L.     Kegunaan analisis rasio keuangan
Analisis rasio keuangan sangat berguna bagi bank,para kreditur, investor dan manajemen sendiri sebagai dasar mengambil keputusan. Adapun kegunaan tersebut dapat dirinci sebagai berikut :
1.      Bagi banker berguna untuk mempertimbangkan pemberian kredit jangka pendek maupun jangka panjang kepada perusahaan. Untuk itu para banker lebih tertarik pada rencana jangka pendek, likuiditas, kemampuan memperoleh laba, tingkat efisiensi operasional dan solvabilitas.
2.      Bagi para kreditur jangka panjang lebih tertarik pada kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dan tingkat efisiensi operasional.
3.      Bagi para penanam modal/investor lebih tertarik pada kemampuan memperoleh laba jangka panjang dan tingkat efisiensi perusahaan.
4.      Bagi manajemen sendiri, sangat berkepentingan dengan semua aspek analisis rasio keuangan, karena ini harus mempu membayar hutang jangka pendek maupun jangka panjang, mampu meningkatkan efisiensi perusahaan, mampu memaksimalkan nilai perusahaan, dan mampu memperoleh laba untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham.
Menurut Harahap (2009:195), kegunaan analisis laporan keuangan ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.    Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang terdapat dari laporan keuangan biasa.
2.    Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (explicit) dari suatu laporan keuangan atau yang berada di balik laporan keuangan (implicit).
3.    Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
4.    Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
5.    Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model dan teori-teori yang terdapat di lapangan seperti untuk prediksi, peningkatan.
6.    Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil keputusan. Dengan perkataan lain yang dimaksudkan dari suatu laporan keuangan merupakan tujuan analisis laporan keuangan juga antara lain:
                 a. Dapat menilai prestasi perusahaan
                 b. Dapat memproyeksi laporan perusahaan
c. Dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari  aspek waktu tertentu:
 1) Posisi keuangan (Aset, Neraca, dan Ekuitas)
 2) Hasil Usaha Perusahaan (Hasil atau Beban)
3) Likuiditas
4) Solvabilitas
5) Aktivitas
6) Rentabilitas atau Profitabilitas
7) Indikator Pasar Modal
       d. Menilai perkembangan dari waktu ke waktu
       e. Menilai komposisi struktur keuangan, arus dana
7.    Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.

M.   Keterbatasan analisis rasio keuangan
  1. Rasio tersebut dibentuk dari data akuntansi dan data ini dipengaruhi oleh cara penafsirannya dan bahkan dapat dimanipulasi.
  2. Seorang manajer keuangan harus berhati – hati dalam penilaian apakah suatu rasio tertentu baik atau buruk dalam penilaian gabungan tentang sebuah perusahaan, berdasarkan suatu kumpulan rasio – rasio.
  3. Kecocokan dengan rasio gabungan industri bukan suatu jaminan bahwa perusahaan tersebut sedang berjalan normal dan dipimpin dengan baik.
  4. Dalam menganalisis setiap rasio, angka – angka yang diperoleh dan perhitungan tidak dapat berdiri sendiri. Rasio tersebut akan berarti bila setidaknya satu dari dua hal ini dipenuhi 1)Adanya perbandingan dengan perusahaan sejenis yang mempunyai tingkat risiko yang hampir sama; 2)Adanya analisis kecenderungan (trend) dari setiap rasio pada tahun – tahun sebelumnya.
  5. Pencapaian target sesuai dengan rata rata industri tidak menunjukkan kinerja perusahaan  yang baik. Kebanyakan perusahaan justru menginginkan tingkat yang lebih baik dari rata – rata industri. Oleh karena itu lebih tepat jika difokuskan pada industry leader’s ratios.
Menurut Harahap (2009:203), kelemahan analisis laporan keuangan adalah :
1.    Analisis laporan keuangan didasarkan pada laporan keuangan, oleh karenanya kelemahan laporan keuangan harus selalu diingat agar kesimpulan dari analisis itu tidak salah.
2.    Objek analisis laporan keuangan hanya laporan keuangan. Untuk menilai suatu laporan keuangan tidak cukup hanya angka-angka laporan keuangan. Kita juga harus melihat aspek-aspek lainnya seperti tujuan perusahaan, situasi ekonomi, situasi industri, gaya manajemen, budaya perusahaan dan budaya masyarakat.
3.    Objek analisis adalah data historis yang menggambarkan masa lalu dan kondisi ini bisa berbeda dengan kondisi masa depan.

N.    Analisis Du Pont
Menurut Syamsudin (2000:64), analisis Du Pont adalah ROA yang dihasilkan melalui pekalian antara keuntungan dari komponen-komponensales serta efisiensi penggunaan total aset di dalam menghasilkan keuntungan tersebut. Sedangkan pendapat Sutrisno (2001:256), analisis Du Pont adalah suatu analisis yang digunakan untuk mengontrol perubahan dalam rasio aktivitas dan net profit margin dan seberapa besar pengaruhnya terhadap ROA.
Menurut Syafarudin (2003:128), analisis Du Pont penting bagi manajer untuk mengetahui faktor mana yang paling kuat pengaruhnya antaraprofit margin dan total asset turnover terhadap ROA. Disamping itu dengan menggunakan analisis ini, pengendalian beban dapat diukur dan efisiensi perputaran aset sebagai akibat turun naiknya penjualan dapat diukur. Menurut Soediyono (2001:137), yang dapat diuraikan dengan menggunakan analisis Du Pont adalah ROA (Return On Assets) yang merupakan angka pembanding atau rasio antara laba yang diperoleh perusahaan dengan besarnya total aset perusahaan.

Persamaan Du Pont (Du Pont equation) menurut Gitman (2003, hal 147):
                           ROA = Profit Margin x Total Assets Turnover

                                           Laba Bersih              Penjualan
                           ROA =  -------------------   x   ------------------
                                            Penjualan                Total Aset

                                           Laba Bersih
                           ROA =  -------------------
                                           Total Aset

Berdasarkan keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa analisis Du Pont merupakan analisis yang digunakan untuk mengontrol perubahan dalam aktivitas rasio dan marjin laba, serta sejauh mana pengaruhnya terhadap tingkat pengembalian (rate of return). Sistematika kerja analisis Du Pont ini adalah dengan menguraikan ROA yang merupakan angka banding atau rasio, antara laba yang diperoleh perusahaan (Marjin laba bersih) dengan besarnya total aset perusahaan. Melalui persamaan Du Pont dapat dilihat bahwa ROA diperoleh dengan mengalikan marjin laba bersih dan perputaran total aset. Perputaran total aset diperoleh dari hasil bagi antara hasil penjualan dengan jumlah aset, sedangkan marjin laba bersih merupakan hasil bagi antara laba bersih dengan hasil penjualan. Laba bersih merupakan hasil dari penjualan dikurangi beban-beban.
Menurut Munawir (2010:91-92), adapun keunggulan analisis Du Pont antara lain:
1.      Sebagai salah satu teknik analisis keuangan yang sifatnya menyeluruh dan manajemen bisa mengetahui tingkat efisiensi pendayagunaan aset.
2.      Dapat membandingkan efisiensi penggunaan ekuitas pada perusahaannya dengan perusahaan lain yang sejenis, sehingga dapat diketahui apakah perusahaannya berada di bawah, sama, atau di atas rata-ratanya.
3.      Dapat digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh divisi/bagian, yaitu dengan mengalokasikan semua beban dan ekuitas ke dalam bagian yang bersangkutan.
4.      Dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing-masing produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
5.      Dapat digunakan untuk keperluan kontrol, juga berguna untuk keperluan perencanaan.
Menurut Munawir (2010:92-93), adapun kelemahan dari analisis Du Pont adalah :
1.      ROI suatu perusahaan sulit dibandingkan dengan ROA perusahaan lain yang sejenis, karena adanya perbedaan praktek akutansi yang digunakan.
2.      Kelemahan lain dari teknik analisa ini adalah terletak pada adanya fluktuasi nilai dari uang (daya belinya).
3.      Dengan menggunakan ROA saja tidak akan dapat digunakan untuk mengadakan perbandingan antara dua permasalahan atau lebih dengan mendapatkan kesimpulan yang memuaskan.

O.    Analisis Perbandingan
Menurut Harahap (2009:227), analisis perbandingan adalah teknik analisis laporan keuangan yang dilakukan dengan cara menyajikan laporan keuangan secara horizontal dan membandingkan antara satu dengan yang lain, dengan menunjukkan informasi keuangan atau data lainnya baik dalam rupiah atau dalam unit. Teknik perbandingan ini juga dapat menunjukkan kenaikan dan penurunan dalam rupiah atau unit dan juga dalam persentase atau perbandingan dalam bentuk angka perbandingan atau rasio. Tujuan analisis perbandingan ini adalah untuk mengetahui perubahan-perubahan berupa kenaikan atau penurunan akun-akun laporan keuangan atau data lainnya dalam dua atau lebih periode yang dibandingkan.
Menurut Kasmir (2011:104), rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen yang ada di antara laporan keuangan. Kemudian angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu periode maupun beberapa periode.
Menurut Harahap (2009:227-228), dalam melakukan analisis laporan keuangan teknik perbandingan ini, kita dapat membandingkannya dengan angka-angka laporan keuangan tahun lalu, angka laporan keuangan perusahaan sejenis, rasio rata-rata industri, dan rasio normatif sebagai standar perbandingan (yardstick). Perbandingan antarpos laporan keuangan dapat dilakukan melalui:
1.      Perbandingan dalam dua atau beberapa tahun (horisontal) misalnya laporan keuangan tahun 1993, dibandingkan dengan laporan keuangan tahun 1994. Perbandingan antara tahun 1996, 1995, 1994, dan seterusnya.
2.      Perbandingan dengan perusahaan yang dianggap terbaik.
3.      Perbandingan dengan angka-angka standar industri yang berlaku (industrial norm). Di Indonesia standar ini belum ada tetapi di USA beberapa perusahaan mengkhususkan diri mensupply informasi rasio ini misalnya Moody’s, Standar & Poor dan lain-lain.
4.      Perbandingan dengan budget (anggaran).
5.      Perbandingan dengan bagian, divisi, atau seksi yang ada dalam suatu perusahaan.









BAB III
PENUTUP
          Analisa laporan keuangan merupakan proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevalusi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang.
            Analisis rasio keuangan sangat berguna bagi bank,para kreditur, investor dan manajemen sendiri sebagai dasar mengambil keputusan. Tujuan analisis laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan yang bersangkutan.
Untuk melakukan penilaian terhadap kinerja suatu perusahaan dilakukan analisis keuangan dengan menggunakan berbagai cara untuk melakukan analisis, seperti analisis common size, analisis indeks, dan analsis rasio keuangan, analisis du pont, serta analisis perbandinga.



Daftar Pustaka 
http://poltakyansen.blogspot.com/2013/05/analisis-laporan-keuangan-internasional.html
Husnan, Suad dan Enny Pudjiastuti. 2006. “Dasar-dasar Manajemen Keuangan”. UPP STIM YKPN: Yogyakarata.
Riyanto,B. 1992. “Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan”. Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada: Yogyakarta
Syamsuddin, Lukman. 2013. “Manajemen Keuangan Perusahaan”. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Wiagustini, Putu. 2010. “Dasar-dasar Manajemen Keuangan”.Udayanan University Press: Denpasar.


3 komentar: